• Puisiku Satir Berseri

    Puisiku Satir
    Memang...
    Lukisan khawatirku yang memuncak
    Puisiku Getir
    Tentu...
    Gambaran gundahku yang menggayut

    Takutku kian menjadi akan hadirmu
    Tatkala orang ramai memuji sosokmu
    Galauku kian merajam dengan kiprahmu
    Ketika bayang kekalahan menghantuiku

    Kucari setiap celah salahmu
    Kutoreh dalam puisi satirku
    Kuungkit janji 5 tahun lampau
    Semata tuk surutkan langkahmu

    Namun kau tampak bergeming
    Acuh dengan rangkaian puisiku
    Walau penuh caci
    Kau tak pernah risau

    Pertarungan belumlah usai
    Hingga keluar sang pemenang
    Serial puisi satirku kan tetap mengusikmu
    Karena hanya inilah mampuku

    Jakarta, 18 April 2014
    -PriMora Harahap-

  • Media - Mempengaruhi atau Dipengaruhi ?

    Gempita pesta demokrasi kian menggelora. Hiruk pikuk para calon wakil rakyat maupun mereka yang telah ditasbihkan atau bahkan menasbihkan diri sebagai calon pemimpin masa datang sejak lama telah 'menjual' keunggulan dirinya.

    Media ! Ya, tentu diperlukan media sebagai sarana promosi. Entah media apa saja dimanfaatkan oleh para petarung politik. Mulai dari batang pohon hingga elektronik. Sekedar menggunakan paku sampai teknologi canggih. Menyambangi rakyat di ruang terbuka bahkan menguntit setiap warga negeri ini masuk ke ruang pribadi. Semua jalan dan cara di tempuh demi meningkatkan popularitas dengan harapan dapat mendongkrak elektabilitasnya.. Maka efektivitas dan efisiensi setiap jenis mediapun dikalkulasi, agar dapat menangguk suara rakyat sebanyak mungkin di hari perhitungan nanti. Tentulah dalam hitung-hitungan politik.

    Di masa kampanye, media cetak dan elektronik memang menjadi sarana yang menawarkan keunggulan tersendiri. Media elektronik, dengan ciri khasnya yang mampu menyapa masyarakat hingga ke ruang pribadi, baik perorangan maupun perkelompok, dalam waktu singkat, menembus batas ruang dan waktu, dengan cara yang menarik melalui tayangan audio visual telah memberi nilai tambah.

    Sifat dan karakteristik media elektronik ini tentulah akan memberikan keuntungan lebih bagi para petarung politik, khususnya mereka yang tengah berjuang memperebutkan kursi tertinggi sebagai pemimpin negeri ini. Tidaklah mencengangkan bila wajah-wajah mereka kerap lalu-lalang di media-media elektronik milik sendiri, dengan senyum merekah dan suara lantang membuai setiap warga pemirsa medianya hingga terlena dengan penampilannya.

    Media elektronik memang telah menjadi salah satu media yang dirasakan paling efektif bagi para kontestan ajang pertarungan politik akbar 5 tahunan untuk menyemai pengaruh agar dapat menuai lonjakan perolehan suara saat pemilihan umum dihelat. Di pesta demokrasi ini mereka berlomba-lomba menghias layar kaca dengan beragam program yang mengesankan keberpihakan pada rakyat.

    Para pemilik media yang bertarung memperebutkan tiket menuju posisi nomor 1 di negeri ini menggunakan segenap pengaruhnya melalui beragam acara tayangan medianya. Semua itu diupayakan demi mencapai target pun ambisi pribadi.

    Lahirnya media baru sebagai hasil dari perkembangan teknologi kian membuat media menjadi sarana yang sangat berdaya guna bagi setiap pihak yang mampu memanfaatkannya. Tidak hanya dapat menyajikan tayangan audio sekaligus visual, media barupun telah berhasil meniadakan berbagai hambatan yang terkendala oleh struktur geografis. Duniapun seakan datar tak berbatas dibuatnya.

    Dengan segala kelebihannya, media mampu menanamkan pengaruh di benak publik dan menggiringnya ke arah tujuan yang diharapkan. Membentuk gambaran tertentu akan sebuah realita yang dibangun. Layaknya sebuah lukisan, beragam jenis aliran dapat ditoreh oleh kuas dan tinta media. Naturalis, realis hingga dekoratif perfeksionisme nan menawan hati yang melihatnya.

    Kelebihan inilah yang sangat disadari oeh mereka yang memiliki media. Dengan ciamik mereka yang merangkap posisi sebagai pebisnis media sekaligus politisi itu memanfaatkan setiap media miliknya untuk membangun impresi yang diinginkan dalam alam pikiran setiap insan di republik ini. Tak jarang para pemilik media membenamkan cengkeramannya, menggemgamnya dan membawa medianya ke mana mereka inginkan. Tak pelak publik disodorkan oleh ketidakberimbangan informasi yang disajikan oleh sejumlah media sebagai dampak dari pengaruh sang penguasa dana. Tengok saja betapa seringnya iklan kampanye pemilik media yang turut bertarung di kompetisi kekuasaan berseliweran di setiap media yang terafiliasi dengannya.

    Dengan segenap keunggulannya, media cukup efektif sebagai sarana untuk menanamkan pengaruh kepada khalayaknya. Tak jarang opini yang berkembang di publik merupakan hasil dari penyebaran informasi yang dilakukan secara intensif oleh media.

    Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memilkinya ? Tidakkah ketiadaan akses ‘kekuasaan’ pada media menyodorkan ketidakadilan dalam ajang adu pengaruh ini ?

    Semestinya tidak. Sejatinya media harus bersikap independen dalam menyajikan informasi kepada khalayaknya. Semestinya media setia menjalankan peran sebagai sarana untuk mencerdaskan bangsa ini dengan menjaga objektivitasnya. Tak peduli siapapun yang memilikinya. Tak terpengaruh berapa besar dana yang digelontorkan sang pemilik modal.
    Namun mengapa jurang keadilan tetap menganga lebar dalam industri media ? Mencermati bagaimana struktur dan kinerja media serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat memberikan gambaran akan adanya kesenjangan ini.

    Struktur dan Kinerja Media

    Prinsip pada Media

    Terkait dengan struktur dan kinerja media terdapat tiga prinsip utama yang penting bagi peran maupun hasil produk media.

    Prinsip Kebebasan Media

    Sebagaimana dijelaskan pula oleh Mc. Quail dalam bukunya mengenai teori komunikasi massa, bila berbicara mengenai kebebasan media maka harus dibedakan ke dalam kategori kebebasan pers yang lebih menekankan pada kebebasan lembaga media serta kebebasan berekspresi yang berorientasi pada opini, ide, informasi, seni dan lain sebagainya.

    Dengan adanya kebebasan media maka publik mendapatkan berbagai keuntungan. Pertama berupa ketersediaan informasi mengenai sepak terjang maupun kegiatan para pemangku kekuasaan dengan adanya peranan kritis dari pers dalam menjalankan tugasnya sebagai “watch dog” yang dapat diamati oleh publik secara sistematis dan independen. Kebebasan media juga telah memberikan rangsangan terhadap sisem dan kehidupan sosial demokratis yang aktif serta ruang untuk memiliki informasi.

    Keuntungan berikutnya adalah adanya kesempatan bagi publik untuk dapat mengungkapkan ide, keyakinan dan pandangan mengenai dunia. Terjadinya pembaruan dan perubahan akan budaya dalam masyarakat secara terus menerus juga merupakan salah satu keuntungan kebebasan media. Dan pada akhirnya peningkaan jumlah maupun keragaman informasi sebagai akibat dari adanya kebebasan.

    Kebebasan Media Pada Struktur dan Kinerja

    Kebebasan media yang efektif haruslah ditopang oleh kondisi struktural utama yaitu ketiadaan sensor, perizinan ataupun bentuk kontrol lainnya dari pemerintah, sehingga media bebas untuk menyiarkan berita maupun opini dan di sisi lain tidak terikat pada kewajiban untuk memberitakan sesuatu yang dipaksakan. Adanya hak dan kesempatan yang sama untuk setiap warga negara dalam hal mendapatkan akses kepada saluran ekspresi dan publikasi seperti halnya hak untuk mendapatkan informasi ataupun berkomunikasi. Terdapatnya independensi (kemandirian) yang bebas dari kontrol dan campur tangan kepentingan lain di luar media termasuk kepentingan pemilik. Sistem atau iklim yang kompetitif serta kebebasan bagi media berita untuk mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang relevan.

    Kebebasan dalam hal kinerja media merupakan kebebasan dari segi penyediaan konten yang merupakan produk sebagai hasil kinerja media. Dengan adanya kebebasan ini media diharapkan dapat berperan aktif dan bersikap kritis dalam menyediakan informasi bagi publik dengan tetap menjaga relevansi dari isi informasi yang dapat dipercaya. Media harus tetap menjalankan fugnsinya dalam melakukan investigasi dan peran watch dog untuk kepentingan publik secara luas. Kriteria kebebasan ini haruslah diterapkan pada semua bentuk produk media, baik berita maupun hiburan dan budaya dengan menekankan pada aspek orisinalitas, kreativitas serta keragaman isi. Dengan demikian independensi (kemandirian) media dengan berbagai inovasinya tetap terjaga tanpa menjadi corong propaganda untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.

    Prinsip Kesetaraan Media

    Masyarakat dalam iklim yang demokratis akan sangat mengharapkan dan menghargai adanya prinsip kesetaraan pada media. Tingkat harapan pada perlakuan dan objektivitas media untuk menjaga kesetaraan kian meningkat sejalan dengan peningkatan iklim demokratisasi.

    Kesetaraan Pada Struktur dan Kinerja

    Dukungan kepada media untuk berkompetisi serta ketiadaan iklim monopoli merupakan wujud dari kesetaraan di tingkat struktur. Kebebasan ini memberikan pilihan pada masyarakat untuk dapat memiliki akses yang sama dalam mengirim maupun menerima pesan, baik sebagai nara sumber maupun pemirsa.

    Dalam kesetaraan di tingkat kinerja media haruslah memberikan ruang yang sama kepada semua elemen masyarakat, dan bebas dari tekanan untuk lebih memprioritaskan ruang media kepada pemilik kekuasaan ataupun pihak-pihak tertentu saja. Tidak ada diskriminasi dalam penyediaan ruang produk media, baik berupa opini maupun perspektif yang berlawanan dengan penguasan dan kelompok mayoritas. Media juga harus memberikan kesempatan yang sama kepada setiap pengiklan. Pada intinya kesetaraan ini menuntuk media untuk bersikap adil kepada semua pihak dalam kinerjanya menghasilkan produk (isi) media.

    Prinsip Keragaman Media

    Adanya keragaman media dari segi banyaknya saluran komunikasi yang memberikan ragam konten media memberikan keuntungan bagi publik. Keragaman ini di lain pihak juga memberikan semakin banyak pilihan saluran publikasi pada masyarakat.

    Keragaman Media Pada Struktur dan Kinerja

    Keragaman media akan menawarkan lebih banyak jenis media baik berupa cetak, elektronik maupun on line. Memperkaya keragaman dari aspek geografis dalam cakupan internasional, regional, nasional maupun lokal serta menyediakan keragaman stuktur dalam masyarakat seperti keragaman dalam etnisitas, keyakinan, budaya dan lain sebagainya.

    Keuntungan yang diperoleh masyarakat dari kian beragamnya media adalah memperkaya kehidupan sosial dan budaya masyarakat, adanya jalan bagi perubahan sosial dan budaya, memungkinkan adanya konrol terhadap penyalahgunaan kebebasan bila terjadi konsentrasi pemilik media dalam iklim pasar bebas, terjaganya eksistensi kelompok masyarakat minoritas, sebagai sarana untuk mengurani konflik dalam kelompok-kelompok masyarakat dengan adanya informasi yang memberikan pemahaman antar kelompok serta memaksimalkan manfaat dari adanya pasar bebas idea, seperti juga yang diuraikan oleh Mc Quail.

    Keragaman dalam struktur dan kinerja media menuntut adanya persyaratan utama yang harus terpenuhi. Pertama, media haruslah mencerminkan berbagai realitas yang terjadi di masyarakat, baik dari aspek ekonomi, sosial, budaya mapun politik secara berimbang dalam konten yang dihasilkan. Media juga harus memberikan kesempatan yang sama kepada kelompok sosial dan budaya minoritas yang merupakan bagian dari masyarakat. Memberikan ruang untuk berbagai kepentingan dan sudut pandang yang berbeda dalam masyarakat serta menawarkan pilihan konden yang beragam namun tetap relevan dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.

    Contoh pada iklim media di Indonesia

    Kebebasan media di Indonesia saat ini masih dirasakan pada tahap kebebasan dari pengaruh penguasa (pemerintah) melalui regulasi maupun kebijakan pasar bebas yang memungkinkan masuknya pelaku-pelaku media lain.

    Kebijakan berupa kebebasan bagi masuknya para pelaku dalam bisnis (industri) media memang telah memunculkan beragam media di Indonesia. Namun saat ini perkembangan industri media di Indonesia mengarah pada dorongan kepentingan pemilik modal yang mengarah pada bentuk oligopoli karena adanya pemusatan kepemilikan.

    Saat ini sebagian besar media di Indonesia dikendalikan oleh dua belas kelompok media besar, baik dalam kategori media penyiaran, media cetak maupun media on line. Kedua belas kelompok besar itu adalah MNC Group, Kelompok Kompas Gramedia, Elang Mahkota Teknologi, Visi Media Asia, Grup Jawa Pos, Mahaka Media, CT Group, BeritaSatu Media Holdings, Grup Media, MRA Media, Femina Group dan Tempo Inti Media.

    Kelompok MNC kini memiliki tiga saluran (kanal) televisi free-to-air, 20 jaringan televisi lokal dan 22 jaringan radio dibawah anak perusahaan mereka. Grup Jawa Pos tercatat memiliki 171 perusahaan media cetak. KOMPAS telah pula melakukan ekpansi jaringan bisnis medianya dengan mendirikan Kompas TV sebagai penyedia konten selain 12 penyiaran radio dan 89 perusahaan media cetak lainnya. Visi Media Asia atau lebih dikenal dengan VIVA group telah berkembang menjadi kelompok media dengan dua saluran televisi serta media online. Berita Satu Media Holding yang berada di bawah kelompok usaha telah mendirikan Internet Protocol Television (IPTV), kanal media online serta sejumlah media cetak.
    Terjadinya pemusatan kepemilikan di industri media merupakan konsekwensi dari kepentingan modal. Bentuk oligopoli ini di satu sisi tentu merugikan hak masyarakat atas akses informasi yang beragam dan terjamin independensinya. Industri media yang lebih mengarah pada aspek komersialisasi bisnis yang menguntungkan dapat menjadi sarana yang memberi manfaat bagi pihaik-pihak yang mencari kekuasaan. Hal ini tercermin pada periode tahun-tahun terakhir ini, menjelang kontestasi di pesta demokrasi yang dihelat pada tahun 2014 ini.

    Kemunculan beberapa pemilik kelompok media yang terafiliasi dengan partai tertentu dan telah dideklarasikan sebagai calon presiden tampak begitu kerap mengisi konten produk media-media milik mereka. Berbagai liputan aktivitas mereka sebagai bagian dari kampanye tidak dapat terelakkan. Di satu pihak masyarakat mendapatkan informasi mengenai profil para kandidat pemimpin. Namun yang acap terjadi adalah media di bawah kepemilikan mereka sulit untuk menjaga kesetaraan akses bagi pemberian ruang kepada semua pihak dengan berimbang. Tayangan program acara di sebuah stasiun televisi di bawah kepemilikan pebisnis yang berafiliasi dengan partai tertentu dan maju sebagai kandidat calon presiden merupakan contoh yang sering dijumpai di masa kampanye ini.

    Televisi Republik Indonesia sebagai saluran media layanan publik juga kurang dapat menjaga independensinya dari pengaruh partai yang berkuasa.
    Penayangan secara utuh acara konvensi partai berkuasa di televisi milik negara ini menjadi salah satu contoh masih adanya kecenderungan ‘keberpihakan’ yang tidak murni bebas dari pengaruh kekuasaan.

    Kebebasan media dalam menyajikan keragaman isi yang relevan dan independen dapat terbelenggu oleh kepentingan-kepentingan pihak tertentu saja. Kesetaraan yang semestinya memberikan kesamaan akses pada semua elemen masyarakat menjadi bias dengan bentuk industri oligopoli ini. Demikian pula halnya dengan peran media dalam menjalankan fungsinya sebagai watch dog dapat dikerdilkan oleh kendali para pemilik media, khususnya mereka yang terafiliasi dengan partai ataupun kekuasan tertentu.

    Kondisi ini tentu merugikan masyarakat dalam memperoleh keseimbangan informasi yang relevan dan independen, serta akses untuk menyuarakan aspirasi sebagai nara sumber di saat media memiliki kecenderungan untuk memilih nara sumber dengan pertimbangan kepentingan pihak pemilik modal ataupun penguasa.

    Pemusatan kepemilikan pada sejumlah kelompok pebisnis yang berorientasi pada keuntungan usaha juga mempengaruhi keragaman isi media. Rating seolah menjadi penentu utama bagi ragam isi maupun program acara yang ditawarkan kepada masyarakat. Walaupun sudah cukup menampilkan ragam jenis budaya, etnis, bahasa maupun aspek lokal lainnya dalam kemajemukan masyarakat, sejumlah media yang berada pada sebuah kelompok bisnis yang sama terlihat memiliki keseragaman isi berita maupun program acara.

    Keberadaan televisi berbayar (paid tv) memang telah menyodorkan isi ataupun program acara yang lebih beragam dengan kehadiran acara-acara dari berbagai stasiun televisi di tingkat internasional maupun regional. Namun akses terhadap televisi berbayar sejauh ini hanya dijangkau oleh sebagian kecil kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi sosial menengah ke atas.

    Pengaruh Faktor Eksternal dan Internal terhadap Media

    Dalam menjalankan pekerjaannya memproduksi konten, perusahaan media tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik dari dalam organisasi maupun dari luar.

    Pengaruh eksternal

    Tekanan ekonomi

    Beberapa faktor di luar organisasi media memberi tekanan ekonomi yang mempengaruhi media dalam memutuskan isi (konten).

    Tingkat Persaingan

    Sebagaimana lazimnya organisasi dalam sebuah industri maka beberapa faktor berupa tingkat persaingan dalam industri, agen / sumber berita dan informasi, pengiklan, pemilik dan serikat pekerja dapat mempengaruhi cara kerja sebuah perusahaan media. Pengaruh ini dapat memberikan tekanan ekonomi pada organisasi media.

    Tingkat persaingan yang tinggi dalam industri media dapat mempengaruhi kebijakan organisasi untuk merancang program acara yang kerap hanya mengejar rating untuk tujuan peningkatan keuntungan. Kualitas kerja dan produk yang dihasilkan dapat menjadi korban dari tujuan meraih pasar.

    Kecenderungan rating yang tinggi pada suatu jenis produk membuat keseragaman pada produk-produk di industri media. Tayangan ”empat mata” yang sempat mendapat rating tinggi tetap dipertahankan dengan format sama walaupun sempat mendapat sanksi sehingga diganti dengan judul tayangan ‘bukan empat mata’. Berbagai tayangan sinetron, format reality show maupun produk infotaintmen yang mendapat rating tinggi menjadi nyaris seragam hadir di setiap organisasi media. Hal ini mencerminkan adanya pengaruh persaingan antar perusahaan media dalam pemilihan jenis produk media.

    Pengiklan

    Daya tawar pengiklan juga berpengaruh pada keputusan kerja di organisasi media. Pemilihan jam tayang pemberian ruang bagi informasi dan produk budaya dengan iklan ditentukan oleh besarnya daya tawar pengiklan yang merupakan sumber pendapatan bagi organisasi media. Pada acara-acara dengan rating tinggi seperti Indonesia Lawyers Club, Mata Najwa maupun Yuk Keep Smile kini dipenuhi dengan tayangan iklan yang mengambil porsi ruang siar cukup besar.

    Pengaruh iklan pada media (berdasarkan uraian Bogart) dapat dipaparkan sebagai berikut :
    • Pengiklan jarang berusaha membeli jurnalis secara terang-terangan, namun umumnya mereka akan berupaya untuk meredam berita yang tidak mereka sukai dengan pendekatan dan memanfaatkan daya tawar mereka.
    • Pengiklan sensitif tentang lingkungan untuk pesan yang mereka sampaikan dan tidak menyukai informasi yang bersifat kontroversi.
    • Di saat para pengiklan tidak berdaya pada tekanan pengawasan (seperti adanya regulasi khusus untuk jenis iklan tertentu) maka produser media akan berbelok ke arah sensor diri terhadap jenis iklan tersebut.
    • Para pengiklan yang menjadi sponsor sebuah acara (konten) media berupa siaran, memiliki daya tawar tinggi untuk dapat menentukan konten dan ruang bagi produk iklan mereka.
    • Kelangsungan dan keberhasilan sebuah organisasi media untuk dapat memenangkan persaingan pers lokal ditentukan oleh para pengiklan.

    Pemilik

    Pengaruh pemilik sebagi pemberi modal juga dapat mempengaruhi kebijakan media dalam memutuskan isi (konten) dari medianya. Pemilik yang mempunyai agenda kepentingan tersendiri, seperti pemilik yang terafiliasi dengan partai sering memberi intervensi pada keputusan news room dalam menghasilkan produk (konten).

    Liputan kegiatan Surya Paloh di Metro TV, Aburizal Bakrie di TV one dan Wiranto – Harry Tanoe di RCTI merupakan contoh dari pengaruh pemilik modal terhadap isi (konten) media mereka masing-masing. Selubung kampanye dalam bentuk Kuis seperti yang acap tayang di kelompok media MNC dengan tajuk “Kuis Kebangsaan” merupakan salah satu contoh pemanfaatan media secara berlebihan oleh sang pemilik sebagai kendaraan politik dan alat penebar pengaruh pada publik.

    Komite Penyiaran Indonesia sempat memberikan peringatan kepada RCTI dan Indosiar atas frekuensi dan besarnya ruang penyiaran yang diberikan untuk kegiatan kampanye partai Hanura yang digawangi oleh Harry Tanoe selaku pemilik modal di media-media tersebut.

    Serikat Pekerja

    Serikat pekerja juga memiliki pengaruh pada organisasi media, khususnya bila serikat pekerja mempunyai kekuatan yang berimbang atau lebih besar dari manajemen (pengelola) media. Tuntutan serikat pekerja dapat memberikan tekanan ekonomi yang membuat media lebih mengarahkan orientasi pada pengejaran keuntungan. Orientasi komersialisasi ini pada akhirnya dapat berpengaruh pada penentuan isi (konten) media serta pembagian ruang bagi setiap jenis konten.

    Berbagai pertandingan olahraga yang disiarkan secara langsung (seperti siaran langsung pertandingan sepak bola di SCTV, RCTI dan TVone) didukung oleh sponsor utama yang mendapat ruang siar cukup besar selama acara tersebut berlangsung.

    Tekanan Sosial dan Politik

    Beberapa faktor eksternal juga memberi tekanan sosial dan politik kepada media dalam menentukan isi (konten).

    Kontrol Hukum

    Kontrol hukum dalam bentuk regulasi dan perundangan menjadi pertimbangan organisasi media dalam menentukan isi (konten) media. Segala hal menyangkut SARA ataupun yang dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat mendapat kontrol pelarangan yang kuat dari segi hukum. Tayangan-tayangan yang mengandung kekerasan dan unsur SARA kini sering mendapat sorotan dan kritik tajam.

    Selain itu kontrol politik, baik dari masyarakat maupun partai-partai politik juga berpengaruh pada keputusan organisasi media dalam memilih isi (konten) yang akan diangkat. Afiliasi atau kedekatan pemilik dengan partai politik tertentu sering memberi warna lebih dominan pada isi (konten) media. Namun kontrol politik dari masyarakat yang kritis terhadap keberimbangan informasi dapat menjadi penyeimbang dalam konten media. Masyarakat mulai kritis pada tayangan-tayangan kegiatan politik (kampanye) para pemilik media, seperti liputan kegiatan Surya Paloh di Metro TV, liputan Aburizal Bakrie di TV one dan liputan acara Wiranto – Harry Tanoe di RCTI dan Global TV.

    Lembaga Sosial dan Kemasyarakatan

    Berbagai lembaga sosial dan kemasyarakatan yang cukup memiliki kekuatan (posisi) dalam masyarakat kerap memiliki pengaruh pada kebijakan organisasi media dalam memilih kontennya. Pengaruh ini dapat menjadi cermin dari aspirasi masyarakat (seperti lembaga konsumen, lembaga perlindungan anak dan lain sebagainya) yang menginginkan kualitas produk media tetap terjaga dari pengaruh komersialisasi semata. Yayasan Perlindungan Anak sering melontarkan kritik tajam kepada tayangan-tayangan yang mengandung unsur kekerasan maupun eksploitasi seksual pada jam tayang primer (prime time), sehingga kerap memaksa media memindahkan jam tayang acara tersebut.

    Pasokan Budaya dan Nara sumber

    Luasnya jaringan dan akses yang dimiliki organisasi media terhadap pasokan informasi, budaya dan narasumber juga mempengaruhi konten yang disajikan. Keragaman dan kelanggengan arus informasi dan budaya serta ketersediaan nara sumber akan memperkaya konten sebuah media. Kecenderungan organisasi media untuk memilih nara sumber tertentu akan mempengaruhi kualitas independensi konten media.

    Di lain sisi keberpihakan media terhadap kelompok tertentu juga dapat membatasi akses kekesediaan nara sumber untuk mengisi ruang konten di sebuah media. Nara sumber yang enggan memenuhi tawaran sebuah organisasi media dapat berpengaruh pada kualitas nilai berita yang disajikan.

    Sebuah permasalahan sempat menimpa TV one ketika terungkap menggunakan nara sumber yang tidak sesuai dengan tema (bidang) pembahasan sebuah acara diskusi karena kesulitan stasiun televisi tersebut untuk mengakses nara sumber yang kompeten. Hal ini akhirnya diakui oleh nara sumber bersangkutan.

    Hubungan dengan Masyarakat

    Masyarakat sebagai salah satu konsumen pemirsa produk media juga menjadi faktor penentu kebijakan news room dalam menghasilkan konten. Kecenderungan masyarakat mempengaruhi rating dari produk media maupun oplah.

    Citra yang diharapkan khalayak pada sebuah media juga berpengaruh pada tingkat tontonan maupun pembelian khalayak pada produk media. Kecenderungan maupun citra yang diharapkan masyarakat tersebut pada gilirannnya menentukan kebijakan organisasi media dalam memilih isi (konten) sebagai produk media.

    Beberapa media telah memiliki citra dan posisi berbeda di masyarakat, seperti Pos Kota untuk kelas bawah, Kompas untuk segmen menengah – atas, Metro TV dan TV one dengan citra televisi berita dan lain sebagainya. Perubahan isi (konten) dari media-media tersebut harus sesuai dengan citra yang diharapkan khalayaknya bila tidak ingin ditinggalkan oleh pemirsanya.

    Tujuan-tujuan Utama Media

    Pada dasarnya sebuah organisasi media memiiki tujuan meraih laba untuk dapat menjamin kelangsungan usaha (sebagaimana sebuah perusahaan pada lazimnya) dan memaksimalkan khalayak dan meningkatkan prestise serta pengaruh sosial yang sejalan dengan tujuan mendapatkan keuntungan khususnya dari pemasang iklan. Tetapi sebagai sebuah media, maka organisasi tersebut juga harus memiliki tujuan sasaran dari berbagai bidang (politik, budaya, agama dan lain sebagainya) serta melayani kepentingan publik.

    Sehingga bila mengacu pada prakiraan utama model pasar dari Mc Manus maka kemungkinan sebuah peristiwa dapat berkembang menjadi berita tergantung kepada beberapa aspek yaitu :
    • Berbanding terbalik secara proporsional dengan kerugian yang akan diderita oleh pemilik modal maupun pengiklan. Sebuah peristiwa yang akan merugikan pemilik modal atau pengiklan sering dipertimbangkan untuk diredam. Kasus Lapindo yang jarang diangkat oleh TV one merupakan salah satu contoh nyata.
    • Berbanding terbalik dengan ongkos peliputan. Peristiwa yang memerlukan biaya peliputan besar akan kecil kemungkinannya untuk diberitakan. Siaran langsung Olimpiade dengan biaya hak siar yang sangat mahal hanya mampu disiarkan oleh stasiun televisi tertentu.
    • Berbanding lurus dengan minat khalayak, terutama bila ada pengiklan yang mendanai. Acara konser musik merupakan salah acara yang sangat diminati oleh masyarakat maupun pengiklan sehingga banyak disajikan di berbagai stasiun televisi.

    Faktor Internal

    Organisasi (Manajemen) Media

    Seberapa besarpun modal yang telah ditanamkan sang pemilik, sebagai sebuah badan usaha tentulah pemodal mengharapkan pengembalian keuntungan yang berlipat ganda dari sejumlah dana yang telah digelontorkannya. Iklan menjadi sumber pendapat media untuk dapat melancarkan jalannya roda usaha sekaligus memberikan tambahan kemakmuran bagi pemiliknya.

    Sebuah kewajaran dan keniscayaan bahwa pihak manajemen media akan selalu berupaya untuk dapat meraih penempatan iklan sebanyak-banyaknya guna dapat menambah keuntungan perusahaan. Beragam cara ditempuh, mulai dari meningkatkan rating acara hingga meningkatkan jumlah pengunjung, khususnya bagi media baru (on line media). Tak jarang bayangan raupan keuntungan yang besar membuat media kian memperbesar ruang bagi penayangan iklan.

    Dalam hal ini manajemen media harus menyeimbangkan antara keputusan untuk memilih konten yang memiliki nilai berita dengan pemberian ruang iklan kepada para pengiklan. Pertimbangan ini tentu mempengaruhi pemilihan isi (konten) media.

    Dalam sebuah media selalu ada perpaduan proporsi jenis konten antara berita (liputan) yang dikerjakan secara objektif dengan mengacu pada kode etik jurnalistik, produk iklan maupun opini dari redaktur atau editorial. Berapa besar komposisi untuk setiap jenis konten media sangat dipengaruhi oleh kebijakan organisasi media, baik berupa manajemen yang menjalankan roda usaha maupun news room yang menjaga independensi serta objektivitas media. Porsi bagi iklan atau yang kerap dikenal dengan istilah media buying tentulah tidak boleh memakan porsi bagi ruang berita dan editorial, karena pada dasarnya media harus tetap menjalankan fungsi dan perannya sebagai jembatan informasi dan edukasi bagi khalayaknya.

    Pada beberapa media masih memegang teguh pemisahan ruang antara produk jurnalistik yang objektif, opini redaktur dan produk iklan. Artikel yang mengandung unsur iklan dan dibiayai oleh pengiklan tetap harus diberikan judul atau tanda khusus seperti Infotorial atau Advertorial untuk tidak menyesatkan publik pembacanya dan demi tetap menjaga tingkat independensi media dalam fungsi dan perannya sebagai penyaji informasi.

    Mencuatnya berita Ardi Bakrie, sang Presiden Direktur kelompok media Viva jelang hari pemilihan legislatif perihal iklan Joko Widodo sebagai salah satu kandidat calon presiden di ajang pemilihan umum 2014 ini merupakan contoh yang menyadarkan masyarakat akan betapa besar pengaruh internal manajemen media terhadap keputusan yang harus diambil oleh media sebagai sebuah entitas. Sebagai putra dari pemilik kelompok media yang menduduki posisi tertinggi di jajaran manajemen, pengaruh kekuasannya menjadi sangat besar dan tidak lagi proporsional dalam mengintervensi tayangan informasi di media tersebut. Apalagi Jokowi merupakan rival yang kuat dengan tingkat elektabilitas tinggi, sehingga kemunculan iklannya dikhawatirkan akan kian menggerus elektabilitas ARB di ajang pertarungan pemilihan presiden.

    Penempatan iklan Jokowi semestinya tidak perlu dipermasalahkan bila memang ditempatkan pada ruang iklan. Selama iklan tersebut tidak menyerobot ruang berita ataupun editorial maka pemasangan iklan tidak menyalahi kaidah dan kode etik jurnalistik.

    Dalam urusan pemasangan iklan atau media buying berlaku hukum bisnis. Siapa saja dapat beriklan di ruang iklan yang disediakan oleh media, sejauh kesepakatan bisnis telah dicapai dan isi iklan tidak melanggar kaidah ataupun norma yang berlaku di masyarakat.

    Namun informasi memang bersifat kontekstual. Sebuah informasi dalam bentuk apapun, entah berita ataupun iklan, dapat mengalami pergeseran makna dalam konteks yang berbeda, baik bagi pemberi informasi maupun penerimanya. Pada kasus iklan Jokowi di laman Viva News.com ini agaknya Ardi Bakrie sebagai penerima informasi (pemirsa iklan) memaknainya dari konteks sedang berlangsungnya kontestasi politik dimana sang ayahanda yang turut bertarung dalam ajang kompetisi politik akbar 2014 ini tengah berjuang untuk dapat memenangkan kursi kekuasaan tertinggi negeri ini.

    Ketidaksenangan Ardi Bakrie terhadap tayangan iklan kompetitor ayahnya di laman media miliknya, mendorongnya menggunakan pengaruhnya menekan manajemen untuk segera menurunkan iklan tersebut dan menggantinya dengan informasi yang lebih berkenan. Tak mengherankan bila kemudian terbetik berita mengenai hengkangnya sejumlah petinggi di jajaran redaksi Viva News sebagai bentuk reaksi atas intervensi berlebihan sang pemilik terhadap independensi mereka sebagai insan media.

    Jurnalis

    Deuze memaparkan ideologi kerja jurnalis dengan elemen-elemen utama sebagai pemberi layanan publik (melalui berbagai informasi yang dikehendaki oleh publik), objektivitas (dengan tetap menjaga objektivitas liputan atau produk media), otonomi (untuk menjaga independensi informasi yang dihasilkan), kesegaran (sebagai aspek dalam nilai berita) dan etik dengan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.

    Dalam proses kerjanya jurnalis tidak boleh memasukkan preferensinya untuk menjaga objektivitas produk medianya. Namun jurnalis dapat menuangkan pendapatnya dalam kolom opini, ataupun editorial yang disediakan ruang khusus. Namun seringkali jurnalis menghadapi dilema dalam menjalankan profesinya seperti kenetralan dalam menyajikan informasi versus keterlibatan aktif sebagi individu bagian dari masyarakat, memaksimalkan kreativitas dan kemandirian versus tuntutan proses kerja yang rutin dan birokratis, memenuhi tuntunan konsumen dengan menyajikan acara yang memiliki rating tinggi versus menjaga tujuan komunikatif kepada masyarakat, melakukan kerjasama versus adanya konflik di lingkungan kerja.

    Para jurnalis yang berada di dalam kelompok redaksi berperan sebagai gate keeping bagi proses penentuan isi (konten) berita yang akan diangkat. Peran ini kerap mendapat intervensi dari pihak manajemen untuk mempertimbangkan pemberian ruang iklan yang lebih besar. Di peran inilah kelompok redaksi dalam news room harus dapat tetap menjaga objektivitas dan kode etiknya sebagai jurnalis.

    Teknis Kerja Media

    Teknis kerja jurnalis pada organisasi media dalam melahirkan sebuah produk media harus mengacu pada prinsip-prinsip nilai berita.

    Dalam proses kerjanya jurnalis akan mempertimbangkan nilai dari sebuah berita yang akan mempengaruhi keputusan pemuatan berita tersebut.

    Sebuah berita dianggap memiliki nilai tinggi apabila memenuhi aspek :
    • Ada unsur kekuasaan, status dan popularitas dari individu atau peristiwa yang diliput. Jokowi sebagai media darling merupakan contoh dari aspek ini.
    • Adanya kontak personal atas reporter. Seorang reporter yang memiliki kedekatan personal dengan sumber berita atau sebuah peristiwa akan menilai berita tersebut lebih tinggi. Bencana gempa bumi di Padang bagi seorang reporter yang berasal dari suku Minang akan memiliki nilai berita tinggi untuk diangkat.
    • Lokasi peristiwa. Semakin dekat lokasinya dengan pemirsa maka semakin tinggi nilai beriltanya. Berita bencana di Indonesia seperti Tsunami di Aceh memiiki nilai berita lebih tinggi dibandingkan berita tsunami yang melanda Thailand.
    • Lokasi kekuasaan. Semakin dekat lokasi kekuasaan dengan pemirsa juga semakin meningkatkan nilai berita. Berita pilgub DKI Jakarta memiliki nilai berita lebih tinggi dibandingkan pemilu di Venezuela.
    • Dapat diperkirakan dan rutin. Peristiwa yang dapat diperkirakan akan memiliki nilai berita lebih tinggi dibandingkan peristiwa yang tidak terbayangkan.
    • Kedekatan dengan khalayak. Berita jatuhnya pesawat Garuda di Sibolangit lebih memiliki nilai berita dibandingkan dengan bencana kapal laut di perairan Mediterania.
    • Kebaruan dan ketepatan waktu dari peristiwa. Sebuah peristiwa yang baru terjadi lebih menarik dan memiliki nilai berita dibandingkan dengan peristiwa yang sudah lama. Kecelakaan mobil yang melibatkan si Dul (anak Ahmad Dani) baru-baru ini menempati porsi liputan yang cukup besar.
    • Pemilihan waktu dalam hubungannya dengan siklus berita. Pada surat kabar harian maka pemilihan waktu menjadi lebih ketat seperti harian Kompas dibandingkan dengan majalah atau tabloid mingguan atau bulanan seperti majalah Tempo.
    • Eksklusivitas. Semakin mampu sebuah media mendapatkan hak ekslusif akan sebuah tayangan semakin besar nilai beritanya. Berita tentang penembakan teroris pada breaking news di TV one dan Metro TV maupun siarang langsung pertandingan bola di stasiun televisi tertentu saja seperti RCTI dan SCTV.
    • Keuntungan ekonomi. Berbagai acara konser musik yang diminati oleh masyarakat dan pengiklan memiliki nilai tinggi untuk disiarkan.

    Media Baru (New Media)

    Seiring kemajuan teknologi, telah muncul media baru yang menimbulkan euforia bagi masyarakat di berbagai belahan dunia. Karakteristik media baru yang kian menghapus batas-batas ruang dan waktu telah menjadikan media ini sangat berdaya guna dalam menjembatani kesenjangan informasi dan membantu menyebarkannya nyaris tanpa penghalang.

    Dalam konsepnya Marika Luders (2008) menjelaskan bahwa perbedaan antara komunikasi massa dan personal tidak lagi menjadi terlalu jelas berbeda sejak teknologi yang sama dapat digunakan untuk kedua tujuan komunikasi tersebut. Perbedaan antara kedua jenis media tersebut hanya terdapat pada pengertian tentang dimensi sosial, keterkaitannya ke jenis kegiatan dan hubungan sosial yang terlibat.

    Luders, yang lebih menyukai terminologi “media form” dibandingkan “medium”, berpendapat bahwa perbedaan antara media personal dan media massa mungkin didasari pada perbedaan dalam jenis keterlibatan yang diinginkan oleh para penggunanya. Dimana media personal lebih bersifat simetris dan membutuhkan para penggunanya untuk tampil / berperan aktif sebagai penerima maupun pemberi pesan. Dimensi berikutnya yang juga relevan adalah ada atau tidaknya konteks profesionalitas / kelembagaan yang menjadi ciri dari produksi sebuah media massa. Tentu saja dengan melihat juga perbedaan antara komunikasi yang secara teknis bersifat mediasi (mediated communication) dimana komunikasi terjadi antar individu yang terpisah jarak dan waktu melalui medium tertentu dengan quasi mediasi (quasi mediated communication) berupa komunikasi massa yang lebih bersifat monologikal dan satu arah, sebagaimana dijelaskan oleh Thompson.

    Apa yang Baru dari Media Baru ?

    Poster (1999:15) mendefinisikan tentang perbedaannya dengan media yang lama. Media baru dapat dikatakan sebagai internet yang menyatukan radio, film, dan televisi serta mendistribusikannya melalui teknologi “push”. Media baru ini melampaui batasan model pencetakan dan penyiaran dengan memungkinkan terjadinya percakapan dari banyak orang ke banyak orang lainnya, memungkinkan adanya penerimaan, perubahan dan pengiriman kembali objek-objek budaya secara berkesinambungan, melepaskan kegiatan komunikasi dari keberadaan tempat bangsa-bangsa, dari hubungan kewilayahan yang renggang karena modernitas, menyediakan kontak (hubungan) global secara cepat (instan) dan dapat memasukkan subjek yang modern (terkini) ke dalam perangkat mesin yang terhubung (jaringan perangkat mesin).

    Kalyanaraman dan Sundar (2008) berpendapat bahwa metafora dari gerbang (portal) internet memiliki ciri sebagai gateway menjadi pintu ke akes informasi pada Web atau akses ke Web itu sendiri, sebagai media iklan (billboard) membantu meningkatkan kesadaran dan keyakinan akan adanya sisi lain pada portal seperti halnya eksternal websites, sebagai jaringan (network) memberi tempat kepada para pengguna dengan ketertarikan yang sama dan menyediakan tempat untuk setiap orang dapat menunjukkan ketertarikannya, sebagai wadah masyarakat telah memenuhi / menjalankan peran khusus untuk kelompok pengguna secara umum maupun tertentu (targeted users) dan sebagai sebuah brand menjadi one-stop online source yang menyediakan fungsi-fungsi pertukaran yang beragam maupun spesifik.

    Perubahan-perubahan utama terkait dengan perkembangan media baru adalah terjadinya digitalisasi dan konvergensi (penyatuan) dari semua aspek media, adanya peningkatan interaktivitas dan konektivitas (keterhubungan) jaringan, terdapatnya mobilitas dan delokasi (terlepas dari lokasi) pada pengirim dan penerima pesan, adanya adaptasi peran publikasi dan peserta (audiance), munculnya berbagai bentuk gerbang media (media gateway) baru serta menimbulkan terjadinya fragmentasi (pemecahan) dan pengaburan (arti) dari lembaga media (media institution).

    Perubahan yang cukup besar telah terjadi di media massa. Perkembangan dari sebuah bentuk komunitas masyarakat baru, yang cukup berbeda dari komunitas masyarakat umum, yang salah satunya dicirikan dari jaringan komunikasi interaktif yang kompleks telah melahirkan media baru. Media baru ini ditekankan pada kegiatan kolektif secara bersama-sama, terutama dengan kemunculan internet untuk penggunaan umum (masyarakat).

    Pada media baru telah terjadi proses digitalisasi dan konvergensi yang memungkinkan masyarakat dapat berkomunikasi dan berinteraksi tanpa ada batas-batas ruang dan waktu serta menyatukan berbagi bentuk media yang sebelumnya telah ada melalui satu pintu. Di satu sisi kehadiran media baru telah memberi banyak kemudahan dan kelebihan bagi masyarakat dalam berkomunikasi, berinteraksi dan berekspresi, namun di sisi lain perlu dicermati adanya kemungkinan penyalahgunaan ataupun dampak negatif sebagai akibat dari karakter media baru yang lebih bebas (less control) berbasiskan teknologi yang tidak terdedikasi secara khusus (uniquely undedicated communication technology). Secara umum media baru telah mendapat respon dan penerimaan positif dari masyarakat, dengan harapan yang tinggi terhadap perkembangan dan pemanfaatannya.

    Dampak Penggunaan Internet Terhadap Peningkatan Aspirasi Politik

    Melihat dari karakter internet yang mampu menghilangkan masalah distribusi (penyebaran) informasi karena tidak ada batasan waktu, serta dapat memuat informasi nyaris tanpa batas karena ketiadaan batasan ruang membuat media ini digandrungi oleh banyak tim sukses kampanye partai politik ataupun kandidat yang akan mencalonkan diri.
    Beberapa tim sukses bahkan sengaja membentuk kelompok khusus yang bertugas menangani akun khusus dari partai ataupun kandidatnya. Kelompok yang sering disebut sebagai Cyber Army ini bertugas mengawasi isi informasi yang masuk ke akun tersebut, membanjiriya dengan informasi positif dengan tujuan untuk dapat menggiring opini publik. Tidak jarang kelompok tersebut bertindak seolah-oleh partisipan yang secara objektif memberi dukungannya atas sebuah partai atau seorang politikus. Hal ini pernah dilakukan oleh tim sukses Soesilo Bambang Yudhoyono saat kampanye di pemilihan presiden. Tim suksesnya mengklaim berhasil meraih suara pemilih pemula (pemilih muda) melalui aktivitas di jejaring sosial. Kegiatan serupa juga banyak dicontoh oleh politikus lain, seperti Aburizal Bakrie dan Prabowo yang memiliki sejumlah akun kampanye di berbagai jenis media sosial seperti Facebook dan Blog.

    Namun tidak jarang seorang politikus karena figurnya yang disukai publik memiliki sejumlah relawan yang membangun dan mengelola akun atas namanya. Fenomena Jokowi dengan sejumlah relawan yang kini membuka akun berjudul “Jokowi for President 2014” merupakan salah satu contoh yang terjadi akhir-akhir ini.

    Ketika pilkada DKI Jakarta berlangsung beberapa waktu lalu, muncul beberapa video kreatif dukungan terhadap Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di media Youtube, salah satunya video parodi What Makes You Beautiful yang ditonton lebih dari 1.8 juta kali. Selain memanfaatkan Youtube, pendukung Jokowi Ahok juga memanfaatkan blog, facebook dan twitter, salah satu akun facebook ada yang memberikan dukungan kepada pasangan ini mencapai 140 ribu orang.
    Bila dimanfaatkan secara maksimal maka dukungan media baru (internet) dengan karakteristik khususnya yang dapat mencakup penyebaran demikian luas tanpa batas ruang dan waktu maka semestinya penggunaan internet dapat memberi dampak pada peningkatan partisipasi politik melalui penggiringan opini masyarakat untuk memilih kandidat yang dikampanyekan.

    Namun bentuk aliran informasi yang lebih bebas pada internet juga memberikan publik akses informasi yang lebih luas dan berimbang mengenai profil dari seorang politikus ataupun rekam jejak sebuah partai.
    Masih besarnya prosentase mereka yang tidak menggunakan hak pilihnya di berbagai tingkat pemiihan pimpinan pusat maupun daerah menunjukkan bahwa penggunaan internet sebagai media kampanye belum tentu secara otomatis meningkatkan partisipasi politik masyarakat. Maraknya informasi mengenai berbagai kasus korupsi membuat masyarakat mendapat imbangan informasi dalam memutuskan pilihannya.

    Sebuah survey dan kajian yang dilakukan oleh lembaga Indikator Publik Indonesia menunjukkan 67 % respondennya tidak tertarik pada permasalahan politik dan pemerintahan Indonesia. Skor penilaian kepercayaan publik pada lembaga Dewan Perwakilan Rakyat merosot ke angka -9, Partai Politik di bilangan -26 dan kepada Politisi bahkan melorot hingga nilai -27. Pergeseran pandangan juga terjadi dari partai politik berubah menjadi figur politisi sebagai sebuah individu yang dianggap kompeten dan berintegritas.

    Selain itu faktor penetrasi internet dan literasi penduduk akan teknologi media baru tidak sama di setiap daerah. Begitupula dengan tingkat pendidikan masyarakat yang mempengaruhi daya analisa terhadap figur seorang politikus. Hal inilah yang membuktikan bagaimana kesuksesan Jokowi di pilgub DKI Jakarta belum tentu dapat diikuti dan diterapkan pada pilkada di daerah-daerah lainnya.

    Karakteristik yang khas dari media baru juga membuat media ini jauh dari jangkauan intervensi penguasa (pemerintah) terhadap isi informasi yang terkandung di dalamnya. Manfaat inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para Cyber Army pendukung kandidat calon presiden untuk tetap menunjukkan dukungannya dalam bentuk kampanye tersamar hingga yang jelas terlihat terang-benderang, sekalipun dalam masa minggu tenang.

    Jakarta, Oktober 2013

    -PriMora Harahap-

    (dipersiapkan untuk memenuhi tugas take home test untuk ujian tengah semester mata kuliah Perspektif dan Teori Komunikasi Massa pada Program studi Manajemen Komunikasi, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, dengan sedikit penyesuaian pada contoh kasus terkini)

    Referensi :
    - Mass Communication Theori, Denis Mc. Quail
    - Situs lembaga Indikator Publik Indonesia

  • Raung Sirine Sepanjang Hari

    Bunyi sirine memang kerap terdengar menyebalkan. Belum lagi bila raungannya masih disertai dengan perintah kepada para pengguna kendaraan untuk segera bergeser ke tepi jalan. Apalagi bila hal itu terjadi di saat kondisi jalanan sedang sangat padat. Jangankan untuk menepi, sedangkan untuk bergerak sajapun sulit. Ya, saat macet mengepung, kondisi jalanan memang tak lagi bersahabat. Ribuan kendaraan bagai merayap, nyaris tak beranjak.

    Penggunaan sirine memang identik dengan permintaan hak istimewa untuk diberikan jalan lebih leluasa. Bagi penggunanya sirine dirasakan manjur untuk membelah kemacetan ruas jalan agar cepat sampai di tempat tujuan. Terutama di kota besar seperti Jakarta, dimana kemacetan sudah sangat sulit untuk diurai, khususnya pada jam-jam sibuk. Dan bertambah padatnya penduduk di ibukota, membuat jam-jam sibuk seakan berlangsung hampir sepanjang hari di kota yang bagai tak pernah lelap ini.

    Sejatinya penggunaan sirine hanya diperkenankan bagi mereka yang memiliki jabatan dan kepentingan khusus. Raungan sirine memang diizinkan untuk digunakan oleh pemadam kebakaran, ambulan maupun pejabat negara. Bahkan penikmat manfaat sirine yang disebut terakhir itu selalu disertai dengan kawalan aparat yang biasa disebut vorrijder. Pengawalan oleh aparat memang menjadi salah satu fasilitas yang diberikan negara kepada para pejabat negara di negeri ini. Tentu saja pemberian fasilitas yang didanai oleh uang rakyat itu dimaksudkan agar para pejabat dapat menjalankan tugasnya dengan lancar demi kepentingan negara. Sehingga sudah selayaknya bila kawalan khusus lengkap dengan sirine itu hanya digunakan di saat sang pejabat dalam perjalanan untuk menunaikan tugas negara.

    Namun apa yang terjadi ? Sirine seakan tak berhenti meraung sepanjang hari, bahkan di malam hari hingga hari libur sekalipun. Bila raungan itu berasal dari kendaraan pemadam kebakaran atau ambulan tentu para pengguna jalan lainnya masih dapat memaklumi. Permintaan hak istimewa pemberian jalan akan terasa sebanding dengan tingkat kegentingan yang dihadapi.

    Hanya saja kenyataannya kini banyak sekali kendaraan yang menggunakan fasilitas sirine lengkap dengan kawalan aparat. Bukan berupa pemadam kebakaran pun tidak berbentuk ambulan atau polisi yang tengah memburu pelaku tindak kejahatan. Tak jelas lagi siapa saja yang menikmati kemudahan ini. Menilik dari jenis kendaraan dan pelat nomor polisi yang tertera, kerap tidak menandakan bahwa sang pengguna fasilitas tersebut adalah seorang pejabat negara, yang memiliki ciri khusus pada nomor polisi di pelatnya. Jenis kendaraannyapun banyak yang tergolong super mewah, tak sesuai dengan spesifikasi kendaraan dinas negara.

    Para pejabat negeri inikah? Bisa jadi. Sudah bukan rahasia lagi bila beberapa pejabat memang berasal dari kalangan berpunya. Tapi bila mengacu pada tingkat kepentingan pemberian fasilitas yang dibiayai rakyat ini, tentulah tidak diperuntukkan bagi keperluan pribadi sang pejabat. Kendaraan dinas yang diberikan kepada pejabat negara semestinya digunakan sesuai dengan fungsinya, melancarkan kegiatan kedinasan yang ditopang dengan penggunaan vorrijder. Sehingga penggunaan kendaraan pribadi bagi keperluan di luar tugas negara, tidaklah layak dilengkapi dengan fasilitas negara.

    Aturan yang sangat jelas bagi penggunaan fasilitas negara, termasuk jasa pengawalan oleh aparat, telah berlaku di banyak negara lain. Kala saya berkesempatan mengunjungi beberapa negara maju, tak terdengar sedikitpun raung sirine di luar kendaraan pemadam kebakaran, ambulan atau polisi yang sedang memburu waktu dalam menjalankan tugas genting. Itupun boleh dikata sangat jarang. Sehingga kenyamanan berkendarapun kian terasa. Bahkan para pejabat negaranya tak segan menggunakan transportasi umum bersama dengan khalayak ramai.

    Lalu siapa sajakah penikmat fasilitas voorrijder yang membuat raungan sirine seakan tak pernah henti di republik ini? Entahlah. Tak pernah ada sosialisasi yang jelas kepada masyarakat luas perihal kebijakan penggunaan fasilitas negara itu.

    Sempat tertuang berita di media cetak tentang beberapa orang artis tersohor ibukota yang mengaku sebagai orang yang turut memanfaatkan jasa voorrijder demi mendapatkan kelancaran jalan yang memudahkannya untuk memenuhi panggilan tampil di berbagai tempat. Ibu sayapun pernah memiliki pengalaman ditawarkan jasa pengawalan oleh beberapa aparat saat baru saja keluar dari pintu tol jagorawi. Tentu saja jasa ini tidak diberikan dengan cuma-cuma. Sejumlah tarif tertentu telah disebutkan di awal penawaran yang langsung ditolak mentah-mentah oleh beliau. Begitupun dengan berbagai pemberitaan perihal mobil-mobil mewah yang melenggang leluasa di jalan-jalan protokol diiringi pengawalan aparat bermotor lengkap dengan sirine. Entah… sekedar untuk mendapat kemudahan atau penanda gaya hidup yang berkelas.

    Maka terbetik pertanyaan pengusik kalbu. Kemana larinya dana jasa pengawalan ini ? Jangankan laporan penerimaan dana, selama ini tak pernah ada laporan terbuka mengenai penggunaan dan pengeluaran dana dari kendaraan pengawal bersirine yang merupakan inventarisasi negara ini.

    Hingga kapankah penduduk negeri ini harus menahan diri dari raungan vorrijder yang hilir mudik sepanjang hari? Sedangkan rakyat pembayar fasilitas itu harus menabahkan hati terjebak kemacetan jalan yang kian semrawut.

    -PriMora Harahap-
    Jakarta, Juni 2012

    note:
    tulisan ini telah diunggah dan dimuat juga di blog PriMora Harahap pada Kompasiana (Kompas.com) dan di blog Detik (detik.com)

  • Gulir Waktu Sang Penguasa

    Sehari, seminggu, sebulan…

    Eforia gempita pemimpin anyar masih bergema di negeri ini

    Seorang pemimpin konon maju terpilih lewat jalur paling demokratis sepanjang sejarah reformasi

    Sosok panutan harapan bangsa nan digadang-gadang tampan, pandai pun santun

    Seminggu, sebulan, setahun…

    Impian rakyat kan kiprah sang pemimpin membumbung tinggi

    Nantikan gebrakan anyar membawa perubahan nan rancak tuk kesejahteraan bangsa

    Terciptanya negeri adil makmur, gemah ripah loh jinawi tuk segenap penghuninya hingga pelosok tanah air

    Sebulan, setahun, sepancawarsa…

    Genap satu masa kepemimpinan sang bapak negara

    Tak terlihat jua kemakmuran nyata terasakan merata tuk bangsa ini

    Hanya polesan citra kian gemerlap membuatnya melaju kembali

    Setahun, sepancawarsa, sewindu…

    Negeri kian carut marut bak tak lagi berwujud tuk sebuah bangsa besar

    Pundi-pundi penguasa sang pelayan rakyat kian tambun seakan berlomba adu gelembung tumpukan harta

    Para jelata kian terabaikan hingga perjuangkan hidup dengan segala cara

    Sepancawarsa, sewindu, sedasawarsa…

    Gebyar kemewahan para wakil rakyat dikitari ragam kekerasan dan penderitaan kaum yang diwakilkan

    Sang tokoh pemimpin bangsa coba tuk tetap santun dengan tutur penghiburan diri, sibuk lantunkan nada demi nada dunianya sendiri, dari tahta di istana pasir yang kian rapuh diterjang gemuruh pertikaian dan rongrongan para punakawan pun hamba sahaya yang tak lagi patuh, tak lagi santun, sedang kawan sekontrakan dulu tak lagi berjalan beriring, berpaling tuk bangun singgasana sendiri

    Sepi terasa menggayut di tengah riuh badai yang menghantam, ancaman kesunyian kian mencekam, kembali lahirkan senandung sedih, suarakan rintihan kalbu yang kian perih dan jeritan hati tuk tak ditinggalkan, harapkan belas kasih masih tersisa untuknya nikmati tampuk kuasa hingga penghujung waktu

    Sedasawarsa…

    Menanti kisah apa kan tertoreh di penutup dasawarsa tatkala genap satu dekade yang sarat dengan tanya, akankah lingkaran dinasti mampu lanjutkan citra di akhir penanda sebuah kuasa?

    Ataukah rakyat harus kian lama merajut khayalan semu, bergumul dengan kegetiran hidup?

    Mengulur waktu saksikan babak demi babak drama keterpurukan tak berkesudahan

    -PriMora Harahap-

    Maret 2012

    Lahir dari sebuah keprihatinan akan kondisi bangsa dan negara ini.

    note:

    diunggah dan dimuat juga dalam blog PriMora Harahap pada Kompasiana (Kompas.com) dan blog Detik (detik.com)

  • Republik Ini.....

    Bak Republik Sinetron…
    Ketika para penguasa asik berlakon
    Mainkan peran penuh gurau dan canda
    Hingga rintih curahan hati memohon permakluman

    Bagai Republik Dagelan…

    Sarat tingkah kocak para wakil rakyat
    Dan ruang sidangpun tak lagi sakral
    Riuh dengan cemooh dan gelak tawa

    Laiknya Republik Pinokio…
    Tatkala dusta tlah menjadi budaya
    Kebohongan ditutup dengan kebohongan
    Seakan lupa dosa yang merongrong

    Laksana Republik Feodal…

    Saat sang pemimpin sibuk membangun dinasti
    Nan megah dan diagungkan para hamba sahaya
    Seraya berharap dielukan penjuru bumi

    Tak ubahnya Republik Preman...
    Disaat mafia, makelar, calo, centeng hingga preman merajalela
    Aparat tak berdaya hentikan kekerasan dan hukum rimba
    Uanglah kini yang kuasa di atas segalanya

    Sebuah Republik Acak Kadut…
    Buah dari kolaborasi nan indah
    Republik Sinetron, Republik Dagelan, Republik Pinokio, Republik Feodal dan Republik Preman
    Lahirkan negara yang carut marut

    Hanyalah Republik Semu…
    Sakralkan citra dan citra semata
    Citra yang hanya sekedar gambaran dan bayangan
    Rakyatpun tergugu, adakah republik ini masih berwujud ???

    -PriMora Harahap-

    Jakarta, Feb 2012

    lahir dari sebuah keprihatinan akan kondisi bangsa dan negara yang kian semrawut.

    note:

    diunggah dan dimuat juga pada blog PriMora Harahap di Kompasiana (Kompas.com) dan blog Detik (detik.com)

  • Jatidiri sebuah bentuk Integritas dan Tanggungjawab

    Acapkali dijumpai banyak anonim ataupun alias pada ranah maya. Perkembangan teknologi informasi yang pesat memang kian memungkinkan setiap orang untuk tampil urun suara. Entah berupa opini, tanggapan atau sekedar celotehan dan kicauan saja.

    Namun alangkah indahnya bila semua orang berani tampil dengan jatidiri masing-masing, sekalipun tidak di dunia nyata. Disamping bisa lebih saling mengenal, menyapa dengan akrab, juga akan terbina rasa kedekatan dan kebersamaan walau berbeda pendapat sekalipun. Dengan menyebut jatidiri masing-masing, walau sekedar menyapa dan bercakap di ranah maya, tanpa bisa saling memandang, kita akan bisa merasa bahwa yang diajak bercakap, yang disapa, yang diajak untuk saling berbagi informasi adalah sesama Manusia, bukan sekedar Mesin, papan ketik (keyboard) dan monitor.

    Penggunaan jatidiri akan mempermudah setiap orang untuk menjalankan etika-etika dalam berinteraksi dengan sesama warga dunia. Dengan melihat, setidaknya membaca nama diri orang lain maka setiap orang akan selalu tersadarkan dan diingatkan bahwa yang diajak berkomunikasi sejatinya adalah sesosok orang yang memiliki jiwa. Sehingga setiap individu di ranah mayapun akan selalu berupaya layaknya berinteraksi dengan sesama manusia.

    Kemajuan teknologi komunikasi memang memungkinkan orang untuk berkomunikasi melalui media yang maya, tidak nyata. Memang tidak dapat dihindari bahwa kecanggihan media maya ini sangat memungkinkan siapapun dapat menggunakan ”nama apapun” sebagai pengganti jatidiri. Namun kehadiran media maya sejatinya dimaksudkan sekedar untuk mempermudah proses berkomunikasi antar manusia, mengingat manusialah makhluk sosial di muka bumi ini yang senantiasa membutuhkan berkomunikasi, tanpa ada hambatan ruang dan waktu.

    Hadirnya media maya semestinya bukan ditujukan untuk me-maya-kan sosok manusia yang nyata dan menisbikan keberadaannya. Maka jatidirilah yang akan menghadirkan ‘’sosok nyata” pada ranah maya ini. Tanpa jatidiri maka semua akan benar-benar maya.

    Manusia dikenal melalui jatidirinya. Bayangkan bila tanpa jatidiri maka kita akan saling menyapa hanya dengan sapaan ”eh, hei, hoi”. Kendala kesamaan nama tentu selayaknya tidak dijadikan pembenaran untuk menyembunyikan jati diri. Selama ada niat, banyak cara untuk tetap menunjukkan jatidiri dengan memberi sekedar ”kode seperti profesi, kota tempat berdomisili atau sekedar tanggal lahir”. Namun seyogyanya setiap pelaku komunikasi di dunia maya tidak menggunakan alias sepenuhnya hanya dengan tujuan untuk menyembunyikan jatidiri.

    Jatidiri pada konteks sebuah tulisan memang sering dirasa tidak memberi dampak terlalu fatal seperti halnya pada akun di bank. Sehingga banyak yang berkilah bahwa penggunaan jatidiri pada sebuah tulisan terlebih di dunia maya tidaklah penting karena tak memberi dampak berarti. Namun sesungguhnya alasan itu terlontar lebih dilatarbelakangi oleh keegoan manusia, yang merasa sebuah dampak tidaklah fatal bila tidak langsung merugikan dirinya.

    Mengapa dampak jatidiri pada akun bank lalu kita rasa fatal? Karena kita tidak ingin ada membobol dana kita disana oleh orang yang ”mengaku” sebagai pemilik akun? Karena jatidiri kita akan memberi tanda yang unik pada akun kita? Karena dampaknya langsung mengena diri sendiri? Tapi terbayangkah dampak sebuah tulisan terhadap orang lain?

    Penggunaan jatidiri setidaknya memberi dampak pembelajaran bagi setiap orang untuk berani bertanggungjawab atas setiap pilihan kata yang dilontarkan, termasuk atas setiap reaksi sebagai dampak yang tercipta dari setiap kata yang dipilih. Dan dampak - seremeh apapun itu - tetaplah memberi jejak, berbekas. Entah itu memberi bekas keceriaan atau guratan di hati orang lain.

    Dalam berkomunikasi - melalui media apapun itu - entah langsung atau tidak langsung selalu berujung pada interaksi dengan manusia. Dengan demikian sebuah tulisan - sependek apapun dan dalam bentuk apapun - juga akan berjejak, meninggalkan kenangan. Entah itu kenangan manis ataupun pahit, memberi kebanggaan dan motivasi atau sakit hati. Sebab apapun tulisan yang tertuang akan dibaca oleh manusia, yang dampaknya akan mengena pada manusia juga.

    Bila pada tulisan fiksi mungkin penulis memang masih bisa leluasa menggunakan alias, karena semua cerita hanya khayalan semata. Namun bila tulisan yang dituangkan bukan bersifat fiksi, dimana tokoh atau apapun subjek yang terangkat di dalamnyapun nyata, saat objek yang dituju juga nyata, maka dampak yang ditimbulkan dari setiap kata tertulis akan memberi bekas yang nyata pula.

    Tentu diperlukan kebesaran jiwa untuk berani menunjukkan tanggungjawab atas setiap dampak yang ditimbulkan dari setiap tulisan yang tertuang. Dan tanggungjawab hanya bisa ditunjukkan oleh sosok yang nyata. Penunjukkan jatidiri tidak selamanya untuk menunjukkan sang empunya itu cantik, pintar, pesolek, atau pengen beken. Hanya melalui jatidiri saja, seseorang belum tentu bisa dikenali apakah dia suka bersolek, atau paling cantik. Namun yang pasti, jatidiri menunjukkan tingkat tanggungjawab seseorang atas setiap tindakan yang dilakukan.

    Dan semua itu memang berawal dari sebuah Niat : untuk Tujuan apa kita menulis?

    Kebebasan berpendapat memang harus dijunjung tinggi, karena bila tidak, berarti dunia berekpresi telah diberangus dan manusia kembali ke zaman kelam, mengalami kemunduran di era demokratisasi yang justru sedang giat digaungkan di penjuru bumi. Kebebasan berpendapat memang perlu dimulai, untuk membiasakan rakyat dan khususnya setiap pemimpin di belahan dunia manapun legowo menerima kritik yang dapat menjadi umpanbalik bagi sebuah proses pembenahan diri.

    Sejatinya orang akan sulit maju tanpa kritik dan tidak akan berkembang bila menutup diri dari setiap jenis saran karena akan selalu merasa paling benar dan unggul. Sebuah bangsa tidak akan berkembang lebih baik bila para pemimpinnya anti kritik dan enggan menerima umpanbalik.

    Sebuah masyarakat yang madani memang sejatinya mampu mengutarakan pendapat dengan baik dan membudayakan kebebasan berpendapat, sehingga memungkinkan alur informasi berimbang bagi masyarakat luas, yang akan mengimbangi info-info dari media arus utama yang belum tentu menyentuh hal-hal yang kerap dianggap remeh-temeh namun menarik dan sering luput dari pemberitaan. Budaya menghargai kebebasan pendapat yang dibangun pada bangsa ini juga yang akhirnya akan memupus tindakan-tindakan anarki sepihak terhadap para jurnalis, memberangus kekerdilan jiwa terhadap kritik.

    Namun harus diingat...

    Setiap bentuk kebebasan berpendapat harus disertai sebuah tanggungJawab. Tanggungjawab kepada lingkungan sekitar, tanggungjawab sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan dalam tataran lebih tinggi lagi bila memungkinkan melalui pendapat setiap orang dapat berperan aktif menunjukkan tanggungjawabnya sebagai warganegara, tanggungjawab untuk turut mencerdaskan bangsa, tanggungjawab untuk turut berperan memajukan dan membenahi negara tercinta, tanggungjawab untuk membantu meluruskan sistem yang menyimpang, tanggungjawab untuk mengingatkan para pemimpin yang telah lalai dan abai, walau sekedar melalui sebuah pendapat dan tulisan.

    Untuk itu, pendapat, informasi dan tulisan yang diberikan hendaknya dapat memberi nilai lebih bagi pembacanya, yang mampu menuntun sebuah penyimpangan ke jalan yang benar dan alangkah lebih baik lagi bila bisa memberi manfaat positif kepada masyarakat luas. Setidaknya setiap pendapat yang tertuang dapat mencerahkan dan memberi wawasan baru.

    Banyak hal yang sebenarnya dapat diberikan dalam konteks kebebasan berpendapat, apalagi di era teknologi dimana beragam media tersedia. Tergantung pada penggunanya akan memberikan dampak yang mana. Yang positifkah atau negatif? Semua tergantung pilihan sang penutur dan penulis. Peran seperti apakah yg ingin dimainkan dalam konteks bermasyarakat?

    Kesadaran dan pilihan peran tentu akan mencerminkan seperti apa kualitas kedewasaan penulisnya. Dalam dunia penulisan non fiksi, bersembunyi di balik sebuah alias atau bahkan anonim tentu tidak mencerminkan sebuah jiwa yang dewasa. Menggunakan alias dan anonim menunjukkan si penulis tidak siap terhadap tanggapan dan bahkan kritik atas pendapat yang dilontarkannya sendiri, yang berarti si penulis tidak siap untuk proses pembenahan dan pengembangan diri.

    Menanggapi atau mengkritik dengan menggunakan alias dan anonim juga menggambarkan kekerdilan jiwa, ketakutan untuk menerima kembali umpanbalik atas kritikannya. Atau bahkan memang sejak awal melontarkan tanggapannya, si pengkritik sudah dihantui ketakutan akan tanggungjawab sosial yang akan dituntut oleh masyarakat pembaca karena memang merasa telah melontarkan kritik/tanggapan tanpa dasar yang jelas atau bahkan tanpa landasan informasi apapun.

    Berani berbuat tentu harus berani bertanggungjawab. Apapun bentuknya itu. Termasuk berbuat dalam bentuk menulis, berpendapat, atau bahkan sekedar memberi tanggapan dan kritikan.

    Keberanian menunjukkan jatidiri juga berarti berani bertanggungjawab atas setiap perbuatan dan ucapan, baik yang dilontarkan maupun ditulis. Penggunaan jatidiri menunjukkan kebesaran jiwa pemiliknya dan kebanggaan atas diri sendiri.

    Lalu mengapa harus malu mengungkapkan jatidiri?

    Bila kita malu dengan jatidiri sendiri, siapa lagi yang kita harapkan akan menghargainya?

    Hargai dan banggalah dengan jatidiri kita sendiri maka orang lainpun akan menghargai kita. Sehingga penggunaan jatidiri sepertinya juga merupakan bagian dari etika berpendapat, baik di ranah nyata maupun maya. Penggunaan jatidiri menunjukkan tingkat keberanian dan kebesaran jiwa seseorang untuk menerima tanggungjawab atas setiap pendapatnya.

    Bangga atau malukah kita dengan jatidiri kita sendiri?

    Setiap tulisan yg dibuat - dalam bentuk apapun - apalagi yg dilontarkan ke ranah publik akan berjejak, meninggalkan kenangan. Setiap kata tertulis memberikan gambaran diri.

    Maka kenangan seperti apakah yang kita inginkan untuk setiap tulisan kita? Ingin dikenang seperti apakah kehadiran kita di ranah tulis-menulis? Gambaran diri seperti apakah yang kita harapkan akan tercipta?

    Sebagai pribadi yang penuh tanggungjawab atau sekedar seorang tanpa kepercayaan diri yang bersembunyi di balik sebuah tulisan? Semua terpulang kembali pada setiap individu.

    -PriMora Harahap-
    Jakarta, awal 2012

    note:

    tulisan ini telah diunggah dan dimuat juga di blog PriMora Harahap pada Kompasiana (Kompas.com) dan blog Detik (detik.com).

  • Strategi Kesiapan Dunia Usaha Menghadapi Globalisasi di Era Keterbukaan Teknologi Informasi

    Tulisan ini sesungguhnya telah saya rampungkan pada tahun 2001. Namun karena masih terlihat ada relevansinya maka saya postingkan kembali di blog ini.

    Perubahan Iklim Dunia Usaha

    Gerbang era globalisasi dunia telah terbuka, khususnya sejak awal millennium lalu, yang ditandai dengan menisbinya batas-batas wilayah antar negara di dunia dalam segala aspek sumber daya. Sebagaimana telah di siratkan dalam berbagai perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang berawal dari perjanjian perdagangan multilateral (GATT) pada perundingan Uruguay maupun kesepakatan pelaksanaan wilayah perdagangan bebas di Asia (AFTA) bagi negara-negara kawasan Asia.

    Memudarnya batas-batas ini tentu membuat arus lintas beragam sumber daya antar negara menjadi kian mudah dan murah. Sebuah negara yant tidak memiliki sebuah jenis sumber daya kini dapat memperolehnya dari negara lain.

    Memasuki era globalisasi berarti pula memasuki era perdagangan bebas, yang menuntut setiap pelaku usaha untuk lebih meningkatkan keunggulan kompetitifnya bila ingin tetap eksis dalam pasar global. Seluruh pelaku usaha mau tidak mau harus mempersiapkan diri bila ingin tetap sukses dalam era perdagangan bebas. Tidak terkecuali para pelaku usaha di Indonesia, dengan mengingat kawasan Asia pun dengan segera telah memberlakukan AFTA pada tahun 2008-2010, dimana untuk mempersiapkan hal itu akan diterapkan penghapusan segala bentuk proteksi bagi pelaku bisnis domestik dalam bentuk penurunan struktur tarif (CPET) secara bertahap.

    Berbagai kewajiban dan ketentuan telah disepakati dalam putaran Uruguay. Segala bentuk kewajiban dan ketentuan tersebut akan segera diberlakukan dalam era perdagangan bebas yang harus dipatuhi oleh setiap pelaku usaha bila hendak turut bermain dalam percaturan bisnis dunia. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menciptakan perlakuan dan kesempatan yang sama dengan menghilangkan berbagai bentuk hambatan perdagangan, baik berupa hambatan tarif (tariff barier) maupun hambatan non tarif (non tariff barier).

    Beberapa kewajiban yang menonjol dari perundingan yang melahirkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) itu adalah:
    • Setiap negara harus memberikan perlakuan yang sama baiknya, pada produk atau jasa yang berasal dari negara lain.
    • Adanya transparansi dalam setiap aturan main yang diterapkan.

    Adapun ketentuan mengenai akses pasar menyatakan bahwa setiap negara berkewajiban memberikan hak kepada pengusaha negara lain untuk memasuki pasar negaranya, khususnya untuk sektor-sektor produk dan jasa yang telah dinyatakan sebagai sektor terbuka.Dengan demikian akan tercipta suatu lingkungan persaingan yang sangat tajam, yang tidak akan terlepas dari kemampuan penguasaan terhadap sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi serta kemampuan dalam memanfaatkan peluang pada kancah perdagangan internasional.

    Untuk itu diperlukan suatu keunggulan kompetitif yang sangat kuat agar dapat bertahan dan berkembang di era globalisasi, karena tidak dimungkinkannya lagi berlaku jaminan proteksi dari pemerintah setempat untuk pelaku usaha domestik yang ingin memasuki pasar dunia. Hanya pelaku usaha yang mampu meningkatkan keunggulan kompetitifnya yang berhasil meraih dan meningkatkan pangsa pasar dalam kancah internasional.
    Dalam setiap rekomendasinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) selalu menekankan pentingnya masalah stabilitas ekonomi-politik, adanya transparansi, peningkatan efisiensi, pengembangan infrastruktur, kerjasama dalam bidang teknologi dan finansial serta pengembangan sumber daya manusia. Rekomendasi tersebut dianggap penting untuk dilaksanakan oleh setiap pelaku usaha guna dapat memperkuat dan meningkatkan keunggulan kompetitifnya.

    Berbagai perubahan telah terjadi dalam dunia lingkungan usaha, baik dari segi politik, ekonomi, sosial, budaya maupun teknologi. Untuk dapat menentukan arah dan strategi yang tepat dalam menghadapi dan mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi maka suatu kajian lingkungan usaha secara menyeluruh perlu dilakukan terlebih dahulu sebagai dasar pertimbangan langkah strategis selanjutnya.

    Politik

    Era demokratisasi telah merebak hampir di seluruh kawasan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Sejalan dengan meningkatnya sistem demokratisasi, maka kesadaran akan perlunya sistem otonomi juga semakin meningkat. Ide bahwa suatu pemerintahan ataupun pimpinan pusat dalam bentuk satu mainframe yang merupakan bagian penting dari keseluruhan pemerintahan akan menjadi usang. Kondisi ini menuntut terlaksananya transparansi dalam setiap aspek berbangsa dan bernegara. Tren-tren dunia secara luar biasa akan menuju ke arah kebebasan politik.

    Indonesia sendiri akhir-akhir ini telah mengalami kemajuan yang sangat tajam dan berarti dalam kehidupan berdemokrasi. Masa pembelajaran yang diperlukan Indonesia memang sempat menimbulkan ketidak stabilan politik pada awal-awal tahap mengenal bentuk demokrasi seutuhnya. Periode ini memang sempat menyebabkan meningkatnya country risk, khususnya di mata para investor dunia.

    Namun setelah berhasil melewati masa-masa sulit, situasi politik di Indonesia berangsur-angsur pulih. Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi masyarakat pada umumnya dan masyarakat bisnis pada khususnya, karena kestabilan politik serta sistem demokratisasi dan transparansi dalam setiap aturan main yang diterapkan merupakan kunci utama untuk memasuki era perdagangan bebas.

    Kemampuan pemerintah untuk menjaga kestabilan politik dalam negeri yang menjamin kepastian hukum dan penegakkan aturan yang jelas, menjadi faktor penting bagi keputusan investor untuk memilih sebuah negara sebagai tempat menanamkan modal dan mengembangkan usaha.

    Ekonomi

    Tingkat persaingan menjadi semakin tajam dalam memasuki era globalisasi ini. Perdagangan bebas memungkinkan mengalirnya barang dan jasa antar negara tanpa adanya hambatan yang berarti. Kondisi ini tentu menuntut kesiapan dan ketangguhan dari setiap pelaku usaha bila tidak ingin tersingkir dari pasar dunia.

    Keunggulan komparatif seperti mengandalkan tenaga kerja murah tidak lagi terlalu berarti, sejak dimungkinkannya dilakukan multi sourcing pada era pasar bebas. Untuk itu diperlukan keunggulan kompetitif yang lebih kuat, baik dalam hal sumber daya manusia yang berkualitas, penguasaan teknologi maupun kemampuan akses pasar yang luas melampaui batas-batas negara, dalam menghadapi persaingan yang kian meningkat.

    Tren-tren dunia secara luarbiasa juga menuju ke arah pembentukan aliansi ekonomi guna menunjang keunggulan kompetitif. Suatu trend besar yang akan terjadi di dalam komunitas bisnis global adalah trend aliansi strategis. Dimana sebagian besar aliansi strategis itu akan berskala internasional. Deregulasi, liberalisasi dan swastanisasi segera melanda dan melaju di seluruh kawasan dunia.

    Bagi pelaku usaha di Indonesia, kondisi ini bukan perkecualian, bila tidak ingin tertinggal atau bahkan terlindas di percaturan dunia. Keunggulan kompetitif menjadi sebuah kewajiban untuk setiap pelaku usaha bila ingin sukses dalam memasuki era perdagangan bebas, dimana setiap pelaku bisnis dapat memasuki pasar negara manapun dengan tidak adanya lagi batas-batas wilayah secara nyata. Sudah tentu kondisi ini menuntut sikap profesionalitas yang tinggi dari setiap pelaku usaha, menuju era multi national company atau bahkan transnational company.

    Pasar bebas semakin memungkinkan kepemilikan sebuah perusahaan oleh banyak investor di penjuru dunia sehingga mayoritas kepemilikan di satu pihak tidak lagi menjadi hal utama yang menentukan keberhasilan untuk dapat memasuki pasar global. Situasi ekonomi Indonesia yang semakin membaik dengan semakin pulihnya tingkat kestabilan dalam negeri akan sangat mendukung masuknya pelaku-pelaku usaha dari manca negara untuk melakukan aliansi strategis dengan pelaku-pelaku usaha di Indonesia.
    Kecenderungan lain yang terjadi adalah pemfokusan seluruh sumber daya hanya pada unit usaha yang berprospek dan menguntungkan serta sesuai dengan nilai-nilai maupun kepentingan strategis jangka panjang.

    Pemilihan pemfokusan ini dapat dilakukan berdasarkan evaluasi atas beberapa kriteria tertentu yaitu:
    • Prospek atau nilai usaha.
    • Kesesuaian dengan visi dan misi perusahaan.

    Pemfokusan ini akan lebih memungkinkan setiap pelaku usaha untuk dapat mencurahkan perhatian dan seluruh sumber dayanya dalam mencapai keuntungan tertinggi dengan meningkatkan core competency di bidang-bidang yang terpilih saja, yang pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan tersebut.

    Dengan demikian dapat dikatakan bahwa trend yang akan terjadi sebagai akibat dari terbukanya perdagangan bebas adalah:
    • Spesialisasi kegiatan ekonomi
    • Mengalirnya arus modal atau investasi untuk memperoleh production based yang paling kompetitif dalam upaya meningkatkan pangsa pasar.

    Sosial

    Kecenderungan terjadinya perubahan sosial maupun gaya hidup dari desa menuju metropolitan, dari konsumsi produk padat karya menuju sarat teknologi canggih pada masyarakat dunia maupun sebagian besar masyarakat Indonesia semakin menuntut tingkat kepraktisan dalam gaya hidup serta meningkatkan kesadaran akan kebutuhan informasi. Hal ini semakin meningkatkan kebutuhan akan pemberdayaan setiap elemen dalam masyarakat untuk dapat lebih fleksibel serta tangguh dalam menghadapi dinamika dunia, yang menuju pada suatu sistem dunia tanpa batas.

    Pertumbuhan yang luar biasa akan segera menyusul ketika orang dibebaskan untuk menyumbangkan ide dan energinya, dengan tidak adanya lagi keharusan untuk menerima segalanya yang datang dari pemerintahan atau pimpinan pusat. Hal ini melahirkan suatu pergeseran tatanan sosial baru dari sentralisasi menuju desentralisasi.

    Derasnya arus informasi serta banyaknya pilihan produk dan jasa akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan pada produk dan jasa yang berkualitas tinggi.Kebebasan dan keterbukaan pasar dunia akan diberikan pada siapapun yang dapat memenuhi standar persyaratan teknis maupun standar persyaratan sistem jaminan mutu, melalui prosedur pengujian yang diakui oleh lembaga akreditasi dan sertifikasi internasional.

    Tidaklah mengherankan bila pada akhirnya kualitas yang dijamin melalui standar jaminan mutu (ISO) akan menjadi salah satu prasyarat dalam transaksi perdagangan bebas, karena konsumen dunia akan semakin kritis dalam memilih dan menilai kualitas dari produk ataupun layanan jasa (service) yang ditawarkan.

    Ketidakmampuan pelaku usaha untuk memenuhi standar kualitas internasional akan mengurangi daya saingnya di pasar bebas, terutama bagi mereka yang menginginkan pengembangan usaha ke arah bentuk transnational company guna dapat merambah pasar internasional.
    Pencapaian standar kualitas ini hanya dimungkinkan dengan adanya dukungan yang kuat dari sumber daya yang berkualitas (termasuk sumber daya manusia), sistem manajemen yang baik serta nilai-nilai budaya perusahan yang mengakar kuat, dibarengi dengan adanya komitmen terhadap visi dan misi yang jelas.

    Budaya

    Revolusi dalam teknologi, khususnya teknologi informatika dan telekomunikasi telah membuat segalanya menjadi transparan. Kemajuan di bidang teknologi maupun infrastruktur penunjang lainnya telah membuat terjadinya evolusi budaya menuju budaya yang lebih mandiri, serta semakin meningkatnya kesadaran untuk memperluas pengetahuan. Dengan demikian akan tercipta suatu jaringan masyarakat yang global, tanpa adanya lagi batas-batas wilayah yang nyata.

    Tenaga kerja, khususnya tenaga ahli telah berubah peran dengan semakin meningkatnya tingkat pengharapan dan kepuasan. Hal ini menuntut adanya pemberdayaan serta wewenang yang lebih besar dalam lingkup perusahaan.
    Semakin besar kekuasaan teknologi, semakin besar pula kekuasaan yang dimiliki pemakai induvidualnya. Dengan demikian akan terjadi peningkatan pemberdayaan baik secara individual (tenaga kerja) maupun dalam bentuk gaya kepemimpinan dalam perusahaan.

    Ketika para pelaku bisnis mulai menyadari bahwa pasar mereka pada akhirnya akan menjadi satu dan sama, aliansi lintas perbatasan dan lintas industri akan menjadi norma baru dalam masyarakat industri.
    Dilain pihak semakin lancar arus informasi, membuat semakin banyak orang mendengar keindahan lingkungan dan budaya belahan dunia lainnya, yang semakin meningkatkan hasrat masyarakat untuk melihat sendiri lingkungan dan budaya itu. Hal ini sejalan dengan sifat keingintahuan dan hasrat pembelajaran pada diri manusia sebagaimana dijelaskan dalam teori Y tentang sifat dasar manusia.

    Tren ini akan merupakan peluang emas tersendiri dari sisi ekonomi, khususnya dari segi pariwisata. Melakukan perjalanan pariwisata akan menjadi budaya tersendiri yang diakibatkan oleh tren informasi global. Sarana infrastruktur tentu menjadi penunjang yang sangat diperlukan dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata yang semakin pesat.

    Teknologi

    Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa kemajuan pesat dalam teknologi, khususnya telekomunikasi dan informatika telah membuat evolusi dalam segala aspek kehidupan, khususnya dalam aspek sosial budaya. Era transparansi telah dimulai, yang membuat tidak adanya lagi batas-batas yang nyata antar negara, khususnya dalam dunia usaha. Kondisi globalisasi ini semakin memungkinkan dilakukannya multi sourcing serta terciptanya transnational company guna memperluas akses penetrasi pasar dunia.

    Pergeseran produk dan jasa dari padat karya menjadi sarat teknologi akan terjadi dalam kurun waktu yang tidak lama lagi. Telekomunikasi akan merupakan kekuatan penggerak yang secara serentak menciptakan ekonomi global yang besar sekali. Serta di dalam jaringan ekonomi global abad ke 21, teknologi informasi akan mendorong perubahan, sama pastinya seperti ketika manufaktur mendorong perubahan di dalam era industri.

    Kemajuan pesat dalam teknologi telekomunikasi dan informatika melahirkan suatu bentuk perdagangan baru berupa perdagangan menggunakan media elektronik (e-commerce) yang memungkinkan terjadinya perdagangan melewati batas-batas negara serta penguasaan pasar dunia dalam bentuk transnational company. Tren e-commerce ini telah menunjukkan betapa semakin tipisnya batas-batas wilayah antar negara di dunia yang semakin global sejalan dengan meningkatnya tuntutan masyarakat dunia akan gaya hidup yang lebih praktis.

    Pada dasarnya ada empat ide dasar yang sedang terwujud di dunia ini yang disebabkan oleh perkembangan teknologi:
    • Pembauran teknologi
    • Aliansi strategi
    • Pembentukan jaringan global
    • Akses pada teknologi informasi-telekomunikasi untuk pengembangan individu

    Untuk itu tidak ada jalan lain kecuali diperlukannya dukungan dan kesiapan yang kuat bagi setiap pelaku usaha dalam hal penguasaan teknologi dan informasi bila tidak ingin tertinggal dalam kancah internasional. Penguasaan teknologi dan informasi akan menjadi suatu keharusan dalam dunia usaha.

    Semakin besar kemajuan dalam akses informasi, akan semakin besar pula kemampuan dan kesempatan setiap pelaku usaha untuk belajar dan mendapatkan keuntungan melalui pembagian informasi penting dari seluruh dunia. Penguasaan informasi merupakan faktor penting bagi para pelaku usaha di negara-negara berkembang. Bersama dengan gencarnya gerakan swastanisasi dan program pendidikan, hal lain yang paling mendukung kesejahteraan ekonomi negara yang sedang berkembang adalah prasarana telekomunikasi dan akses informasi.

    Tanpa prasarana telekomunikasi dan informasi maka perekonomian suatu bangsa akan gagal. Tepat ketika bergerak secara global ke satu pasar ekonomi maka kita pun bergerak dalam telekomunikasi ke satu jaringan tingkat dunia dengan keterkaitan satu sama lain.Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah pula menciptakan semakin banyak jenis jasa yang dapat diperdagangkan. Bahkan kemajuan teknologi akan memacu proses pemberdayaan individual yang melahirkan semakin banyak bentuk perdagangan hak intelektual atau hak cipta. Adanya kecenderungan ini telah membuat kesepakatan perundingan perdagangan multilateral (GATT) dalam putaran Uruguay menghasilkan aturan-aturan baru dalam bidang perdagangan jasa atau services (GATS) serta perdagangan hak-hak intelektual (TRIPs). Adanya kesepakatan tersebut menunjukkan semakin tingginya tingkat pengakuan dan penghargaan masyarakat dunia akan sumber daya manusia yang berkualitas.

    Namun disadari bahwa tidak semua negara memiliki tingkat kemajuan yang sama dalam hal teknologi, walaupun era pasar bebas sangat menuntut kemampuan dan pengusaan teknologi sebagai salah satu kunci keunggulan kompetitif. Kondisi ini akan menciptakan terjadinya suatu aliansi strategis ataupun kooperasi yang saling menguntungkan antar perusahaan dari berbagai negara.

    Penanaman Nilai-Nilai Utama (Core Values)

    Penentuan arah strategi menuju masa depan yang cemerlang tentunya tidak terlepas dari visi dan misi yang dicanangkan oleh suatu perusahaan. Sebuah visi dan misi yang implementatif tentu harus digali dari budaya yang mengakar kuat di seluruh tubuh perusahaan. Guna dapat meningkatkan kinerja perusahaan yang berkualitas, secara keseluruhan diperlukan adanya suatu dukungan nilai-nilai perusahaan yang tertanam kuat sebagai dasar pijakan bagi seluruh unit kerja di dalamnya dalam mencapai sasaran dan tujuan jangka panjang perusahaan.

    Pembangunan budaya serta nilai-nilai perusahan yang kuat sangat diperlukan dalam proses perkembangan maupun perbaikan. Budaya perusahaan akan mencerminkan sasaran, tujuan, ideologi perusahaan kepada seluruh anggotanya serta akan memberikan garis-garis pedoman yang kukuh yang akan membentuk perilaku setiap individu dalam melakukan setiap tindakan untuk mencapai sasaran utama maupun tujuan perusahaan.Disamping itu, budaya perusahaan juga akan menjadi perekat sosial atau normatif bagi seluruh perusahaan yang membentuk norma-norma perilaku serta gaya kepemimpinan yang diterapkan.

    Pada dasarnya budaya dan nilai-nilai utama yang ditanamkan melaksanakan beberapa fungsi penting yaitu:
    • Identitas bagi seluruh perusahaan.
    • Komitmen dari setiap individu.
    • Stabilitas sistem sosial.

    Sehingga pada akhirnya budaya dan nilai-nilai utama perusahaan akan mempengaruhi perilaku dalam:
    • Nilai-nilai perusahaan yang mendasari setiap tindakan.
    • Iklim perusahaan.
    • Gaya kepemimpinan.

    Budaya dan nilai yang dianut tentulah harus merupakan budaya dan nilai yang selaras dengan sasaran dan tujuan perusahaan dan diyakini dapat mencapai sasaran dan tujuan tersebut.

    Nilai-nilai utama (core value) yang menekankan pada adanya komitmen untuk selalu meningkatkan keinginan akan sebuah sistem pemberdayaan melalui suatu proses belajar yang terus menerus (learning organization), kerja sama yang baik (team work) serta kualitas pencapaian sangat diperlukan bagi sebuah perusahaan yang berkeinginan membentuk dirinya menjadi transnational company guna dapat bertahan (survive) dan mampu merambah pangsa pasar pada percaturan pasar international. Tak pelak lagi, suatu sikap profesionalitas yang membudaya pada setiap individunya mutlak diperlukan dan ditanamkan dalam pengelolaan suatu perusahaan berskala multinational.

    Dengan mengacu pada visi dan misi serta tujuan jangka panjang, sebuah perusahaan yang bercita-cita dapat eksis di pasar global sebagai pelaku usaha yang diperhitungkan keberadaannya, haruslah menerapkan nilai-nilai utama yang tepat, berupa:
    • Sikap profesionalisme dan transparansi dalam setiap tindakan.
    • Pencapaian hasil usaha serta kualitas pelayanan yang unggul.
    • Kerja sama yang baik dalam bentuk team work dan sinergi antar unit bisnis.
    • Kepercayaan dan Perlakuan yang sama serta adil bagi seluruh anggota.
    • Keinginan untuk terus berkembang melalui proses pemberdayaan (empowerment) guna meningkatkan produktifitas secara berkesinambungan.
    • Mencapai pertumbuhan keuntungan bagi para pemegang saham (stake holders).

    Budaya dan nilai yang diyakini oleh perusahaan haruslah diimplementasikan dan disosialisasikan ke seluruh unit kerja dan setiap individu yang tergabung di dalamnya. Setiap manajemen puncak wajib meneruskan budaya dan nilai perusahaan ke segenap unit bisnis dan seluruh anggotanya.

    Dengan adanya budaya dan nilai perusahaan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi setiap unit kerja ataupun unit bisnis dalam membentuk dan mengembangkan sub-budaya yang sesuai iklim dan lingkungan usahanya. Sehingga akan terjadi kesinambungan kepentingan dalam mencapai sasaran dan tujuan bersama dalam jangka panjang serta tercipta suatu sinergi dan harmonisasi antar unit bisnis.

    Pentingnya Fokus Kompetensi Utama (Core Competence)

    Untuk dapat meningkatkan daya saing atau keunggulan kompetitif di pasar dunia, sebuah perusahaan seyogyanya haruslah memiliki core competence yang kuat dengan memfokuskan perhatian dan sumberdaya yang dimilikinya hanya pada unit-unit usaha yang berprospek, menguntungkan serta memiliki kesesuaian dengan visi dan misi yang diyakininya. Tidak adanya kejelasaan pengalokasian sumber daya yang tepat, sebagai akibat dari tidak adanya fokus pada kompetensi utama, hanya akan membuat perusahaan seringkali membuang waktu dan energi pada sektor-sektor yang tidak dikuasai dan berujung pada kegagalan pencapaian jangka panjang.

    Dengan memfokuskan seluruh perhatian dan sumberdaya yang dimilikinya pada ke bidang-bidang usaha yang dikuasai, sebuah perusahaan akan mampu meningkatkan daya saing ataupun keunggulan kompetitifnya guna dapat merambah kancah dunia usaha domestik serta internasional sebagai pelaku usaha yang diperhitungkan sebagaimana tertuang visi dan misinya.

    Terapkan Strategy yang Tepat

    Suatu strategi yang seringkali ditempuh oleh sebuah perusahaan untuk dapat bertahan dalam masa-masa sulit adalah strategi pengurangan aset perusahaan. Strategi pengurangan aset, khususnya dalam hal pengurangan jumlah karyawan, merupakan strategi yang sepintas terlihat menguntungkan dalam jangka waktu pendek.Namun hal ini dapat berpengaruh pada kestabilan perusahaan dalam jangka panjang untuk tetap dapat mempertahankan nilai-nilai yang telah dibinanya guna dapat mencapai tujuan jangka panjang serta kesiapan memasuki pasar global.

    Perusahaan-perusahaan yang melakukan pengurangan jumlah karyawan berharap bahwa mereka akan dapat mengurangi overhead cost, sehingga seakan-akan dapat meningkatkan keuntungan dan produktivitas.
    Namun hasil-hasil penelitian baik literatur maupun empiris lebih banyak menunjukkan bahwa langkah ini lebih banyak mengandung konsekwensi negatif, karena perusahaan akan menjadi kehilangan kekuatan penopang jalannya usaha, termasuk kehilangan sumber-sumber daya manusia yang telah terdidik dan terlatih serta telah mengenal dan memahami nilai-nilai budaya maupun iklim berusaha di perusahaan.

    Strategi yang lebih tepat diterapkan dalam kondisi sulit adalah strategi sistemik. Suatu strategi bagi setiap pelaku bisnis yang telah memiliki sumber daya perusahaan yang sangat bernilai, khususnya dalam hal sumber daya manusia yang mumpuni dan telah teruji kehandalannya, yang mampu bertahan dan bersama-sama perusahaan bersiap diri agar dapat survive dalam memasuki kancah pasar global.

    Strategi sistemik lebih mengarah pada perumusan kembali dan pembentukan budaya perusahaan yang kuat. Budaya yang mementingkan kualitas dalam perusahaan untuk mencapai tujuan dalam jangka waktu panjang melalui suatu proses pemberdayaan sumber daya manusia secara berkesinambungan (learning organization).

    Dengan strategi ini, fokus manajemen berubah dari sekedar peningkatan efisiensi menjadi peningkatan kualitas secara menyeluruh. Peningkatan yang tentunya dapat diperoleh dari sumber daya manusia yang handal serta memiliki komitmen kuat terhadap perusahaan tempatnya bekerja.
    Perhatian akan dipusatkan pada pembangunan budaya dan nilai-nilai perusahaan, sistem pengelolaan sumber daya manusia serta peningkatan pelayanan terhadap pelanggan secara terus menerus. Hal ini sejalan pula dengan asumsi dasar dari teori Y akan sifat dasar manusia yang menegaskan bahwa pada dasarnya manusia bekerja secara intrinsik, sehingga selalu termotivasi untuk bekerja dan ingin menjadi lebih kreatif serta berprestasi.

    Didukung pula oleh kenyataan akan perkembangan teknologi, khususnya dalam bidang telekomunikasi dan informasi yang membuat nilai-nilai tenaga kerja menjadi semakin tinggi seiring dengan peningkatan rasa ingin tahu dan kreatifitas para tenaga kerja. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi juga berperan penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan sumber daya manusia, dimana setiap individu kini dengan mudahnya dapat memperoleh pembelajaran dan pengembangan wawasan terkini akan setiap perkembangan yang terjadi di belahan dunia manapun dengan biaya relative murah.

    Untuk dapat menerapkan strategi sistemik, organisasi harus dapat menghargai dan memberdayakan setiap individu yang bekerja di dalam perusahaan dengan memberikan lebih banyak kewenangan yang membutuhkan perubahan dan pengembangan dalam budaya perusahaan maupun gaya kepemimpinan untuk dapat mencapai peningkatan kualitas, produktivitas dan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu diperlukan suatu program pemberdayaan perusahaan baik dari segi manajemen maupun pada setiap individu yang terlibat di dalamnya melalui suatu proses organisasi yang terus belajar (learning organization). Pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia ini sejalan pula dengan rekomendasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

    Learning organization merupakan suatu usaha secara sadar yang menjadi bagian dari organisasi untuk bertahan dan meningkatkan kompetensi secara keseluruhan. Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika dunia usaha serta meningkatkan efisiensi dan kualitas, karena perusahaan harus tetap dapat menyesuaikan diri dengan perubahan atau dinamika yang terjadi. Namun sebuah perusahaan tentu tetap harus memperhatikan stabilitas serta kontinuitasnya agar dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari proses learning organization ini adalah untuk menuju suatu perbaikan baik secara individual maupun dari sisi nilai-nilai perusahaan, yang pada akhirnya mempengaruhi gaya kepemimpinan dalam suatu perusahaan serta perubahan perilaku (change of behaviour) dari setiap sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya ke arah perilaku yang diinginkan.

    Perubahan perilaku ke arah yang diinginkan dapat dibentuk melalui sistem penghargaan yang baik, sistem pelatihan yang menunjang dan berkesinambungan serta penanaman nilai-nilai utama maupun budaya perusahaan yang berakar kuat. Proses ini dianggap berhasil bila proses perbaikan dan pembaharuan itu meluas serta menjadi bagian dari seluruh sistem dalam perusahaan.

    Guna dapat menunjang strategi sistemik, diperlukan sinergi yang erat antar unit-unit kerja, sehingga dapat memperkuat nilai-nilai yang dimiliki. Setiap individu yang tergabung dalam perusahaan dapat saling bertukar ilmu dan pengalaman, sejalan dengan terjadinya kecenderungan perubahan dalam pemahaman keberadaan ataupun posisi tenaga kerja di seluruh dunia, yang semakin menuju ke arah gerakan lintas perusahaan.
    Pada akhirnya sinergi dan proses learning organization diperlukan dalam peran manajerial agar dapat mempertahankan keseimbangan dinamis antara kebutuhan akan stabilitas, guna memudahkan perusahaan dalam mencapai tujuan-tujuan jangka pendek, dan kontinuitas untuk menjamin terjadinya proses perkembangan yang sejalan dengan kebutuhan akan adaptasi dan inovasi jangka panjang. Keseimbangan ini dibutuhkan agar gerak perusahaan dapat lebih proaktif dan fleksibel dalam menanggapi setiap peluang maupun perubahan eksternal yang terjadi.

    Proses pemberdayaan sumber daya manusia juga memerlukan dukungan sistem dan gaya manajemen yang sesuai dengan memberikan lebih banyak ruang gerak dan wewenang bagi setiap sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya. Untuk itu diperlukan suatu sistem manajemen yang terdesentralisasi. Sistem manajemen ini memungkinkan perseroan dengan sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya dapat lebih responsif terhadap setiap permasalahan maupun tantangan yang ada, serta mengambil tindakan yang sesuai.

    Namun tentu saja kondisi fleksibilitas dari sistem desentralisasi ini tetap harus dipandu oleh kesamaan visi, misi dan nilai-nilai yang dianut dan diyakini oleh seluruh bagian dalam perusahaan. Kesamaan nilai-nilai ini tetap diperlukan agar tercipta harmoni dalam setiap kebijakan dan pengambilan keputusan menuju pencapaian tujuan jangkat panjang perusahaan.

    Penguasaan teknologi juga menjadi aspek penting dalam keberhasilan dan kemajuan suatu perusahaan, khususnya dalam menghadapi era perdagangan bebas menuju suatu bentuk transnational company. Dengan penguasaan teknologi yang kuat, khususnya dalam bidang teknologi telekomunikasi dan infomatika akan memudahkan perusahaan untuk dapat lebih proaktif dalam menanggapi setiap peluang yang ada serta lebih efisien dalam melakukan koordinasi. Pelaku usaha yang tidak adaptif terhadap perkembangan teknologi serta tidak menguasai informasi-informasi strategis akan tertinggal dan terlindas dalam pertarungan di era globalisasi.

    Gabungan antara penanaman budaya dan nilai-nilai perusahaan yang kuat serta penguasaan teknologi akan sangat menentukan peningkatan produktifitas perusahaan, yang pada akhirnya meningkatkan efektifitas dan kualitas secara keseluruhan.

    Dapat dikatakan bahwa peningkatan produktifitas sangat ditentukan oleh 3 faktor:
    • Keahlian manajerial dengan sikap profesionalitas.
    • Sumber daya manusia yang berkualitas, yang dibangun berdasarkan budaya perusahaan yang kuat.
    • Penguasaan akan teknologi.

    Suatu strategi yang tidak kalah penting untuk diterapkan sebuah perusahaan yang ingin terus bertumbuh di era globalisasi ini adalah strategi aliansi. Strategi ini memungkinkan sebuah perusahaan dapat memperoleh kekuatan kompetitif dalam menghadapi tingkat persaingan yang sangat tajam di pasar dunia.

    Strategi aliansi perlu ditempuh mengingat krisis ekonomi yang berkepanjangan dapat membuat kondisi finansial di banyak perusahaan menjadi terguncang. Kondisi ini tentunya akan mempersulit gerak langkahnya dalam merambah pasar yang lebih luas lagi.

    Dengan masalah-masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia, termasuk lingkup dunia perbankan dewasa ini maka strategi pendanaan yang hanya bertumpu pada pinjaman Bank akan menjadi tidak realistis. Pinjaman Bank tidak lagi merupakan alternatif yang langgeng mengingat stok hutang yang sudah membengkak akan kian menggerus pundi-pundi keuangan perusahaan. Untuk itu diperlukan suatu dukungan keuangan dari mitra strategis dalam bentuk strategi aliansi.

    Strategi ini juga sangat dibutuhkan dalam hal penguasaan teknologi, mengingat umumnya sebagian besar teknologi canggih berasal dari negara-negara maju. Dengan strategi aliansi ini sebuah perusahaan akan dapat semakin memperkuat dan meningkatkan keunggulan kompetitifnya di pasar international.

    Pada akhirnya untuk dapat meningkatkan core competency yang dimiliki serta keunggulan kompetitif di pasar dunia, sebuah perusahaan haruslah memfokuskan perhatian dan sumberdaya yang dimilikinya hanya pada unit-unit bisnis yang berprospek, menguntungkan serta memiliki kesesuaian dengan visi dan misi serta nilai-nilai budaya yang diyakininya.

    Kesimpulan

    Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa langkah strategis yang perlu dijalankan oleh sebuah perusahaan guna dapat mencapai sasaran dan tujuan jangka panjang.

    Perusahaan yang ingin berkiprah sebagai salah satu pelaku usaha yang diperhitungkan keberadaannya di pasar global serta dibanggakan dalam pasar domestic maka langkah-langkah strategi yang tepat untuk diterapkan adalah dalam bentuk:
    • Strategi sistemik, dengan membangun budaya perusahaan yang kuat serta senantiasa melakukan proses pemberdayaan bagi setiap individu maupun sistem manajemen secara keseluruhan melalui suatu proses belajar yang terus menerus. Dengan proses belajar (learning organization) ini diharapkan akan tercapai suatu perbaikan dalam bentuk gaya manajemen yang sesuai serta perilaku yang diinginkan melalui sistem penghargaan (reward system) yang baik, program pelatihan yang berkesinambungan serta penanaman nilai-nilai utama perusahaan.
    • Suatu bentuk kerja sama yang menguntungkan (team work) atau sinergi antar unit kerja ataupun unit bisnis, khususnya yang memiliki kesamaan ruang lingkup usaha guna saling memperkuat dan meningkatkan keunggulan kompetitif.
    • Strategi aliansi, guna menambah kekuatan dan keunggulan kompetitif dalam percaturan pasar dunia.
    • Fokus pada bisnis inti (core business) yang berprospek dan memiliki kesesuaian dengan visi, misi maupun strategi jangka panjang, yaitu pada sektor telekomunikasi dan infrastruktur.

    Mengingat sumber daya manusia merupakan faktor penentu dan tulang punggung penggerak roda usaha, maka dalam upaya bertahan dan bahkan bertumbuh di era globalisasi ini perlu segera dilakukan pemberdayaan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas. Sumber daya manusia yang tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik namun juga kemampuan strategis perencanaan dan pengelolaan yang baik.

    Suatu program pemberdayaan sumber manusia yang baik perlu ditunjang oleh gaya manajemen yang memberikan lebih banyak ruang gerak serta wewenang bagi setiap individu yang terlibat di dalamnya dalam bentuk sistem manajemen yang terdesentralisasi. Dengan demikian akan lebih memungkinkan perseroan dengan setiap sumber daya manusianya untuk dapat lebih bersikap fleksibel dan bahkan proaktif dalam menghadapi setiap permasalahan maupun tantangan dunia usaha yang semakin dinamis.
    Bertumpu pada sumber daya manusia yang hanya mengandalkan kekuatan fisik hanya membuat sebuah perusahaan tertinggal dan kalah bersaing dalam percaturan dunia usaha international. Sekedar ‘menjual’ sumber daya manusia yang murah pada akhirnya akan membuat sebuah negara hanya menjadi tempat singgah sementara bagi pelaku dan investor dunia usaha.
    Era globalisasi yang telah membuka gerbang dan batas-batas wilayah negara di penjuru dunia telah membuat tingkat persaingan dunia usaha kian ketat. Pada akhirnya setiap negara tidak akan mampu menahan arus perdagangan yang kian membanjir deras.

    Produk dan jasa dihasilkan dari sebuah rantai proses yang melibatkan sumber daya manusia, maka kemampuan dan keunggulan sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan akan semakin menjadi sector kunci bagi kelanggengan sebuah perusahaan dalam tingkat persaingan yang kian ketat.
    Perkembangan teknologi informasi membuat konsumen yang kian cerdas, selektif dan kritis dalam memilih jenis barang maupun layanan yang ditawarkan. Konsumen tidak lagi sekedar memilh barang dan layanan yang dibutuhkan namun telah memilih sesuai spesifikasi dan standar yang diinginkannya, sehingga mutu dan kualitas barang dan jasa menjadi factor yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan konsumen.
    Sehingga setiap pelaku usaha akan segera beralih pandang pada pemilihan sumber daya manusia yang mampu mengimbangi target dan kualitas yang diharapkan oleh pasar. Dan pada saatnya nanti negara-negara yang hanya mampu menawarkan tenaga kerja murah tanpa dibekali oleh kemampuan dan keahlian akan ditinggalkan oleh investor yang menargetkan sebuah produk dan layanan berkualitas bagi perusahaannya, sesuai dengan harapan konsumennya.

    Pembangunan sumber daya manusia yang handal tentu tidak dapat diperoleh secara instan. Perlu strategi pengembangan sumber daya manusia yang berkarakter dan berkeahlian. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dan koordinasi antara semua pihak yang berkepentingan, baik dunia usaha dan pemerintah. Peran pemerintah tentu tak kalah penting dengan dunia usaha dalam upaya pembentukan manusia yang berkarakter tangguh dan memiliki sikap moral yang terpuji, yang harus dimulai dari bangku pendidikan. Sedangkan dunia usaha diharapkan berperan dalam pengembangan sumber daya manusia sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan kemajuan teknologi terkini.

    Sudah waktunya bagi setiap pelaku usaha dan pemerintahan setiap negara untuk mulai mencanangkan “tahun pemberdayaan sumber daya manusia menuju pengembangan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas, yang siap untuk menyongsong era perdagangan bebas dan memasuki percaturan pasar dunia, bila tidak ingin tergilas oleh kemajuan zaman”.

    -PriMora Harahap-
    Jakarta, 2001

    note:

    tulisan ini juga diunggah dan dimuat dalam blog PriMora Harahap di Kompasiana (Kompas.com) dan blog Detik (detik.com) pada kategori strategy.

  • Apa yang Kau Cari, Israel?? - Sebuah Keprihatinan yang Kembali Menguak

    Belum lekang dari benak akan ulahmu bertahun silam
    tatkala kau tutup tahun dengan dentuman senjata perenggut nyawa
    dan kau buka kembali dengan bombardir mesiu pemusnah masal

    Masih terekam dalam ingatan
    betapa banyak raga bergelimpang
    dari jasad yang teregang di Gaza

    Lalu kau ciptakan belenggu kehidupan
    memasung sekian banyak jiwa
    terkurung di tanah kelahiran mereka

    Seakan tak pernah merasa cukup…
    iringan bantuan kemanusiaanpun
    tak luput dari gempuranmu

    Kini kau terjang mereka yang rela berkorban
    waktu, tenaga dan bahkan nyawa
    demi membantu sesama manusia

    Tak hiraukan bendera putih tlah berkibar
    Penuh arogan kau basmi semua yang datang
    Kau sita semua bantuan

    Ironis ! sungguh ironis !
    saksikan dunia hanya dapat bersedih
    seakan terpana tak berdaya, tanpa resolusi berarti

    Apa yang kau cari, Israel ?
    jerit tangis & ratapan pilu korbanmu tak jua kau hiraukan
    mereka yang masih bernurani tak lagi kau anggap

    Apa yang kau cari, Israel ?
    himbauan seluruh warga dunia tak pernah kau dengar
    kecaman dan hujatan tak pula kau perdulikan

    aaah… aku lupa…
    tidak… tentu tidak seantero dunia…
    dukungan karib negara adidaya tlah membuatmu pongah merasa berjaya

    Apa sesungguhnya yang kau cari, Israel ?
    adakah ini hanya sekedar eksistensi wilayah?
    ataukah kedigdayaanmu yang kau harap tertoreh dalam sejarah umat manusia?

    Oooh… ada lagi kudengar…
    kesombonganmu tuk tunjukkan pada dunia
    kaulah penopang kemakmuran sang adikuasa

    Peran pentingmu mengisi pundi-pundi sahabat
    Tlah bungkam sang ''polisi dunia''
    Hak asasi manusiapun tak lagi bergema

    Biadab! teramat biadab!
    Tak lagi puas dengan genosida
    Kaupun berangus setiap bentuk keikhlasan

    Nista… alangkah nista…
    kau korbankan beratus bahkan beribu nyawa hanya demi kekuasaan
    akankah kau akhiri bila semua tlah punah… musnah…

    Betapa orang-orang tak berdosa
    kau hantui rasa ketakutan mendalam
    hadirnya mesin pembinasa

    Lupakah kau akan rasa takut itu?
    yang tlah pernah menghantui bangsamu?
    saat kematian bergayut di udara yang terhirup?

    Lupakah kau betapa dunia tlah mencatat cerita suram di masa silam?
    bagaimana pedih perihnya leluhurmu menanggung derita?
    tatkala Nazi memusnahkan bangsamu atas nama pemurnian ras?

    Akankah kau ulangi sejarah kelam itu?
    inikah bentuk kompensasi atas ketidakberdayaanmu di masa lalu?
    ataukah keangkuhanmu akan sebuah pengakuan?

    Apa yang kau cari, Israel?
    sadarkah kau sebagian besar korbanmu adalah mereka yang tak berdaya?
    terbayangkah olehmu berapa banyak keluarga tlah tercerai berai?

    -PriMora Harahap-

    Pembuka Juni 2010

    note:
    Bait-bait ini sesungguhnya tlah terlahir dari keprihatinan di penghujung tahun 2008 tatkala menyaksikan penyerangan Israel atas penduduk Gaza. Namun serangan gerakan kemanusiaan oleh Israel sehari lalu, kembali menguak keprihatinan mendalam yang terasa masih relevan dicerminkan melalui rangkaian bait ini (dengan bait-bait penyesuaian). Versi semula masih dapat ditemukan di blog ini.

  • 41 Jam Terbang ke Guatemala

    Perjalanan Panjang ke Guatemala

    Hahh?! Terbang ke Guatemala perlu 41 jam? Gak salah?
    Mungkin pertanyaan seperti itu yang terlintas di benak banyak orang tatkala membaca judul artikel ini. Ya, tidak ada yang salah dengan judul di atas. Perjalanan ke Guatemala yang harus saya tempuh pada tahun 2002, hampir 8 tahun silam memang memakan waktu sekitar 41 jam perjalanan udara. Lamanya waktu tempuh disebabkan karena saya harus memutar jalur penerbangan saya dari Jakarta menuju Guatemala city melalui 3 benua. Ya, bayangkan! 3 benua!

    Jalur melintasi 3 benua terpaksa dipilih dengan sejumlah pertimbangan kemudahan, kenyamanan dan yang paling utama adalah keamanan dan keselamatan. Kenapa demikian? Hal ini disebabkan saya melakukannya hanya setahun berselang dari kejadian 9 September 2001 yang menumbangkan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York city. Gedung pencakar langit yang mahsyur sebagai lambang kedigdayaan perekonomian Amerika Serikat itu runtuh diterjang pesawat yang dibajak oleh sekelompok orang pada peristiwa tragis yang kemudian terkenal dengan istilah 9/11 atau black september. Pembajak pesawat tersebut ramai disebut-sebut di media sebagai bagian dari jaringan teroris yang berpusat di sebuah negara timur tengah.

    Sejak tragedi kemanusiaan yang menggemparkan dunia dan merenggut nyawa demikian banyak umat manusia itu memang agak sulit untuk mendapatkan izin ataupun visa ke Amerika Serikat, utamanya bagi pemeluk agama Islam. Bahkan kabarnya kalaupun berhasil mendapatkan visa akan tetap mendapat kesulitan dan perlakukan diskrimatif yang sangat jauh dari kata nyaman ketika seorang muslim menapakkan kakinya di bandara-bandara negeri adidaya itu, walau sekedar untuk singgah sementara (transit). Wah! ’’Mending jangan cari masalah deh Mor. Apalagi kamu akan berangkat sendiri’’, demikian saran yang saya dapatkan saat menyusun rute perjalanan.

    Sesungguhnya rute tercepat untuk menuju ke Guatemala yang terletak di kepulauan Karibia, di selatan benua Amerika memang dengan singgah di Amerika Serikat. Namun karena saya seorang muslim maka saya tidak direkomendasikan untuk melintasi Amerika Serikat dalam perjalanan menuju Guatemala City. Itu sebabnya rute perjalanan saya kemudian diubah menjadi Jakarta – Singapura – Paris – Mexico city – Guatemala city. Bayangkan berapa jauh perjalanan yang akhirnya harus saya tempuh melintasi benua Asia, Eropa lalu Amerika, menuju ke belahan selatannya, hingga berakhir di negara kepulauan Karibia itu.

    Perjalanan panjang ini saya lakoni dalam rangka memenuhi undangan untuk menjadi pembicara di sebuah workshop yang diselenggarakan di Antigua – Guatemala, sebagai perwakilan Non Align Movement (NAM) dari Indonesia. Lokakarya bertajuk ’’Workshop on E-Readiness in Latin America and the Caribbean Region’’, sebuah Bi-lingual Meeting: English and Spanish (http://www.csstc.org/Quick_Reference/SA-2002d.htm#I.6) memang dimaksudkan sebagai ajang berbagi informasi dan diskusi mengenai kesiapan setiap negara di Amerika Latin maupun kepulauan Karibia di bidang Information and Communication Technology (ICT). Adapun delegasi perwakilan NAM Indonesia diundang sebagai pembicara dan pemapar materi utama.

    Diantar oleh ayah hingga ke bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, saya memulai perjalanan panjang seorang diri itu pada tanggal 24 September 2002, jam 17.00 sore dengan rute pertama Jakarta – Singapura. Ya, saya harus berangkat sendiri dari Jakarta karena 3 orang anggota delegasi Indonesia lainnya telah berangkat lebih dulu. Hal ini disebabkan mereka termasuk bagian dari dewan direksi dan pengurus dari kantor representatif NAM Indonesia, yang berlokasi di area Kemayoran - Jakarta, sehingga mereka harus melakukan koordinasi lebih dahulu dengan pihak penyelenggara di Guatemala. Berbekal segenap keberanian hati (yang memang telah saya kumpulkan sejak hari pertama undangan saya terima), serta tentunya tak lupa sebuah laptop dan laser pointer yang saya masukkan dalam handcarry sebagai sarana presentasi di sana, sayapun melangkahkan kaki memasuki pintu pesawat. Sengaja saya membawa laptop pribadi dari Jakarta walaupun panitia di sana tentu akan menyediakan sarana lengkap. Namun saya lebih merasa aman dan nyaman bila peralatan yang saya gunakan saat presentasi sudah saya pahami dengan baik.

    Terbang dengan Singapore Airlines seperti biasa perjalanan rute ini ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam saja. Tiba di bandara Changi, Singapura, saya harus transit selama kurang lebih 1,5 jam, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Paris dengan menggunakan maskapai penerbangan Air France. Menempuh waktu sekitar 15 jam di udara, tidak terasa membosankan, karena teman duduk saya selama di pesawat, seorang pebisnis paruh baya, berusia sekitar 50-60 tahunan, dengan ramah membuka percakapan dan bercerita pelbagai hal menarik. Tak hanya bercerita mengenai Manchester, kota dia berasal, namun diapun tertarik untuk mengenal Indonesia lebih jauh. Sayapun bertukar cerita. Tentu saja saya ceritakan yang indah-indah mengenai negeri kelahiran saya.

    Perjalanan dari Singapura hingga Manchester city yang terletak di Inggris, saat pesawat ini sempat transit selama 30 menit, terasa cukup menyenangkan. Teman saya berbincang akhirnya turun di kota asal sebuah klub sepakbola yang sangat kondang di dunia. Sisa waktu perjalanan hingga ke Paris kemudian saya habiskan dengan menonton film. Tepat pukul 5 pagi waktu setempat, pesawat yang membawa saya mendarat di bandara Charles De Gaulle, Paris.

    Rute penerbangan dari dan menuju benua berbeda membuat saya harus melintasi luasnya bandara ini dari terminal A ke terminal F. Mon Dieu! Cet aéroport est trés grand! Bandara ini luas sekali. Semula sedikit membingungkan juga mencari arah tujuan yang tepat di bandara sebesar itu. Beruntung penguasaan bahasa Prancis saya, walau tidak terlalu fasih, sangat membantu untuk dapat bertanya kepada petugas di negara yang terkenal sangat bangga akan bahasa nasionalnya. Masyarakat Prancis memang bangga sekali dengan bahasa nasional mereka sehingga jarang sekali yang menguasai bahasa asing lainnya. Untuk urusan bicara dengan orang Prancis, saya pernah memiliki pengalaman tersendiri ketika berkunjung ke kota Paris beberapa tahun sebelumnya. Saat mencoba bertanya arah jalan dengan menggunakan bahasa Inggris pada seorang petugas polisi lalu lintas, sang petugas sama sekali tidak menanggapi karena memang tidak menguasai bahasa lain kecuali bahasa Prancis.

    Dengan menumpang shuttle bus, dikala sinar sang mentari belum lagi sempurna menyinari bumi ini, saya berpindah menuju terminal F. Seorang pria Prancis dengan sigap membantu saya menaikkan handcarry ke dalam bus. Mungkin dia iba melihat saya agak tergopoh seorang diri menyeret-nyeret handcary di tengah pagi buta itu. Sungguh seorang pria yang gentle. Padahal dia bepergian bersama gadisnya, yang sama sekali tidak menunjukkan raut wajah masam saat prianya membantu saya. Sang gadis bahkan tersenyum ramah dan menanyakan saya hendak bepergian kemana sepagi itu. Tampaknya hal bantu membantu orang lain yang terlihat membutuhkan, tanpa harus mengenal lebih dahulu, sudah menjadi budaya di keseharian mereka. Semua dilakukan dengan spontan.

    Fiuh! Awal dari perjalanan panjang ini setidaknya sudah terlampaui dengan selamat. Tak berhingga rasa syukur saya kepada Yang Maha Kuasa, karena bertemu dengan orang-orang yang berbaik hati mengulurkan tangan untuk membantu. Pasangan Prancis itu ternyata turun lebih dulu di terminal C, maka tinggalah saya berdua dengan supir bus yang menjalankan tugasnya tanpa sepatah katapun, menempuh perjalanan hingga terminal F.

    Tiba di terminal F, jam menunjukkan pukul 5.45 pagi waktu setempat. Saya langsung menuju ke sebuah business lounge, karena di Paris ini saya masih harus transit selama 8 jam. Pesawat yang akan membawa saya ke Mexico city baru akan berangkat pada jam 1 siang waktu setempat. Awalnya saya sungguh bingung bagaimana akan menghabiskan waktu selama itu seorang diri. Tidur tentu saja bukan pilihan menarik untuk saya, karena badan saya sudah penat dan kepala sudah terasa berat akibat terlalu banyak tidur di pesawat. Makan? Wah! Terima kasih. Perut saya sudah sesak dengan pelbagai makanan dan minuman yang dihidangkan di pesawat berulangkali. Sangking tidak ada hal lain yang dapat dikerjakan di pesawat selain makan dan tidur, saya sudah nyaris merasa seperti kerbau yang sengaja digemukkan untuk ritual hari raya kurban. Berbelanja? Sepagi itu mana ada duty free shop yang buka? Lagipula saya tidak terlalu suka berbelanja di awal perjalanan, karena hanya akan membebani perjalanan yang masih panjang dengan berbagai barang bawaan saja. Bingung juga hendak berbuat apa.

    Saya kembali mengaktifkan handphone yang saya matikan sepanjang di pesawat tadi. Memeriksa sms demi sms yang masuk dan mulai berkirim kabar dengan beberapa teman. Satu jam terlewati. Lalu? Saya kemudian berpikir untuk mandi saja. Kebetulan saya menunggu di business lounge sehingga kamar mandi yang tersedia di sana sangat nyaman untuk membersihkan tubuh yang terasa lengket karena terakhir kali saya mandi di Jakarta hampir 20 jam yang lalu. Saya memang sengaja membawa baju ganti di dalam handcarry. Usai membersihkan diri dan berganti baju, badan terasa segar kembali. Rasa laparpun datang. Ih! Gila! Ternyata bisa lapar lagi. Tadinya saya pikir saya sudah tidak akan sanggup menelan apapun setelah demikian sering dijejali makanan dan minuman di atas pesawat. Segera saya isi perut dengan beberapa hidangan yang tersedia, karena tentu saja saya hanya dapat memilih hidangan yang halal.

    Setelah kenyang dan merasa takkan sanggup untuk menelan sesendok makananpun lagi, saya teringat untuk melihat-lihat kembali materi presentasi saya dan melatih sedikit intro di awal presentasi agar tidak terlihat kaku. Maka tibalah waktunya untuk mengaktifkan laptop dan memutar kembali tape recorder yang berisi rekaman latihan presentasi saya. Memutar kembali memori di otak yang sudah cukup lama dibawa lelap selama di pesawat tadi. Jangan sampai saya lupa dengan materi yang akan dibawakan. Kurang lebih 1 jam saja waktu yang saya gunakan untuk melihat-lihat kembali materi presentasi.

    Waktu masih menunjukkan jam 9.15 pagi. Saya mulai kehabisan akal untuk membunuh waktu tunggu yang masih panjang ini, seorang diri pula. Berselancar menjelajahi dunia maya menjadi kegiatan saya selanjutnya. Entah apa saja situs yang saya telusuri. Beragam berita tanah air, mulai dari yang penting, sedikit penting hingga sangat tidak penting saya simak sambil lalu.

    Setelah bosan, saya kembali melirik jam tangan. Astaga! Ternyata waktu baru bergerak sekitar satu setengah jam saja. Tepatnya baru pukul 10.50 pagi! ’’Mau ngapain lagi nih?’’, batin saya dalam hati. Saat mata tak sengaja melihat para pelayan kembali mengisi nampan di meja-meja hidang, sayapun beranjak mengambil makanan dan minuman lagi. Kali ini bukan karena lapar. Tapi karena ingin ngemil saja. Sungguh! Perut rasanya masih penuh dengan makanan yang saya lahap tadi pagi. Saya bahkan curiga jangan-jangan sistem pencernaan sayapun ikut menjadi malas karena kerja saya hanya makan, duduk, makan lagi dan duduk lagi. Ugh! Rasanya benar-benar sudah seperti ’’kerbau’’ saja, menguyah, memamah biak tak henti-henti.

    Lamat-lamat saya nikmati berbagai penganan dari meja hidang sambil kembali memeriksa beberapa sms yang masuk ke handphone saya. Berhubung masih kenyang, saya sengaja tidak mengambil jenis makanan yang berat-berat. Menghabiskan sisa waktu tunggu, saya lalu mengamati tingkah laku orang-orang yang mulai ramai di business lounge itu, sambil menikmati alunan musik instrumentalia.

    Mendekati pukul 12.00 siang saya beranjak meninggalkan lounge menuju boarding room. Berjalan perlahan sambil melihat-lihat beragam barang yang dipajang di sejumlah duty free shop saya pun memasuki boarding room pukul 12.35 siang. Aaah...! Akhirnya tiba juga waktu keberangkatan menuju negara berikutnya. Pukul 1 siang, pesawat Air France yang saya tumpangi mulai mengudara menuju Mexico city.

    Kali ini teman duduk saya seorang pria muda (menurut pengamatan saya berumur sekitar 30-40 tahunan), berwajah sangat ’’latin’’, bahkan dalam hati saya sempat merasa ngeri melihat tampangnya yang mirip ’’mafioso’’ itu. Sebagaimana wajahnya yang dingin, sikapnya juga tergolong dingin. Sepanjang perjalanan pria yang duduk di sebelah saya itu sama sekali tidak pernah membuka percakapan. Dia hanya sibuk sendiri dengan aktifitasnya menonton film, membaca, mendengar musik lewat earphone, makan dan tidur. Waduh! Tiga belasan jam duduk di sebelah orang seperti ini lumayan juga. Waktu pasti terasa berputar sangat lambat. Payahnya lagi, karena duduk di business class, yang di setiap deret kursinya hanya terdiri dari 2 kursi, maka teman duduk saya tentu hanya satu di setiap kali perjalanan. Tak mau kalah gaya, sayapun menyibukkan diri dengan membaca kembali materi-materi presentasi saya, menonton film, menikmati alunan musik, makan dan tidur!

    Hepp!! Jantung saya rasanya nyaris melonjak keluar lewat kerongkongan, ketika saya terbangun dan mendapati sang ’’mafioso’’ sedang berdiri di depan saya, karena kebetulan deret kursi kami terletak di baris terdepan. Dengan mengenakan kaca mata hitam, dia tampak tengah memandang ke arah saya. Ih! Ini bukan Ge-eR! Sumpah! Saya jarang sekali ke-geer-an. Tapi melihat posisi dan gayanya, saya benar-benar ngeri. Siapa yang tidak ngeri kalau tiba-tiba diamat-amati oleh orang yang selama beberapa jam duduk di sebelah kita tanpa pernah mengucapkan satu patah katapun. Sigap, sayapun langsung membetulkan letak duduk saya yang tadinya sudah setengah selonjor serta membenahi selimut hingga menutupi mata kaki. ’’Orang sinting’’, maki saya dalam hati. Kemudian saya kembali menyibukkan diri dengan membaca. Untunglah waktu tempuh menuju Mexico city saat itu tinggal 3 jam lagi.

    Tiba di Aeropuerto Internacional, bandara terbesar di Mexico city, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat. Menurut jadwal perjalanan yang saya bawa, saya akan transit sekitar 1 jam 15 menit, sebelum berganti pesawat yang akan membawa saya ke Guatemala. Sedikit bingung, maklum baru pertama kali saya menjejakkan kaki di bandara ini, saya mencoba mencari petunjuk ke boarding room yang tepat. Agar tidak tersesat, saya selalu memperhatikan setiap jalan yang saya lalui. Cukup sulit juga karena sepanjang lajur kiri-kanan penuh dengan duty free shop yang berderet-deret, sehingga suasananya sepintas terlihat sama saja. Jadi saya harus ekstra usaha memperhatikan setiap sign board dan duty free shop yang dapat dijadikan penanda, agar seandainya tersesat bisa kembali ke lokasi semula. Setelah bertanya sana-sini, dengan harus memilih petugas yang kira-kira bisa berbahasa Inggris, mengingat masyarakat di sana menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa ibu, tibalah saya di gate yang dituju.

    Sesampainya di pintu boarding room, seorang petugas menanyakan passport dan visa saya. Waduh! Passport tentu saya punya. Tapi visa? Nah, ini masalahnya, saya tidak dibekali dengan visa Prancis maupun visa Mexico, dengan anggapan saya hanya transit di sana, dan tidak akan keluar dari bandara sama sekali. Saya coba jelaskan bahwa saya hanya singgah untuk berangkat lagi ke Guatemala. Petugas itu mencoba mengerti, tapi rupanya dia ingin lebih yakin, sehingga meminta saya memperlihatkan visa Guatemala. Walah! Ini masalah lagi. Karena tidak ada hubungan bilateral (setidaknya hingga tahun itu) antara Guatemala dengan Indonesia, maka saya juga tidak dibekali dengan visa Guatemala. Saya hanya berbekal surat undangan dari Menteri Komunikasi Guatemala (dalam bahasa Spanyol), sedangkan visa on arrival akan diberikan saat saya tiba di bandara Guatemala. Sebuah perjalanan yang cukup beresiko sebenarnya. Tanpa berbekal visa dari negara manapun, sangat rentan bagi saya untuk dideportasi. Kembali saya coba menjelaskan tujuan perjalanan saya itu seraya menunjukkan surat undangan dari Menteri Komunikasi Guatemala, yang untungnya sudah saya copy beberapa lembar sejak dari Jakarta. Setelah membaca isi surat yang tertera dalam bahasa Spanyol itu dan meminta selembar copy nya akhirnya petugas tersebut bersedia memberikan boarding pass. Oooh... leganya....

    Dengan badan mulai terasa remuk redam, saya duduk menunggu di boarding room. Seraya menunggu panggilan untuk masuk pesawat, saya mengedarkan pandang memperhatikan suasana bandara. Mengamati suasana sekeliling saya mendapati bandara Mexico ternyata sudah tergolong modern. Tata ruangnya sangat apik dan menarik, diperindah dengan tata cahaya yang terang benderang. Tidak ada kesan kusam dengan pencahayaan nyaris temaram seperti yang sering saya rasakan di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Deretan dutty free shop demikian semarak. Sebagai gerbang utama untuk masuk ke sebuah negeri, sebuah bandara memang harus jauh dari kesan muram dan kusam. Tak lama, panggilan untuk memasuki pesawat terdengar, saat jam menunjukkan pukul 10.15 malam waktu setempat. Sebuah bis yang dapat menaikkan ’’badannya’’ (dengan semacam forklift)datang menjemput penumpang di boarding room dan langsung mengantarkan hingga pintu pesawat. Para penumpang tidak perlu berjalan kaki di landasan dan menaiki tangga pesawat. Hal ini tentu sangat membantu penumpang yang masih membawa handcarry seperti saya.

    Bergegas saya memasuki pesawat yang kebetulan tidak terlalu penuh. Begitu mendapatkan tempat duduk sesuai nomer yang tertera di boarding pass, saya langsung menghempaskan tubuh letih ini di kursi, memasang safety belt dan tanpa terasa matapun terpejam. Sangking capainya saya tidak terlalu menyadari saat pesawat tersebut mulai mengudara. Namun dengan setengah sadar saya masih sempat merasakan head of steward pesawat itu menyelimuti saya. Sepertinya dia iba melihat ada penumpang bertubuh mungil (bila dibandingkan dengan rata-rata tubuh masyarakat di sana yang tinggi besar) tertidur kelelahan. Seorang baik hati kembali dikirimkan Yang Maha Pengasih dalam perjalanan ini. Bersama AeroMexico saya terbang menuju ke Guatemala city.

    Tiba di Guatemala

    Perjalanan dari Mexico city ke Guatemala ternyata tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar 1 jam 10 menit saja. Saya pun menginjakkan kaki di La Aurora Internacional, bandara di Guatemala pada pukul 11.30 malam. Saat mengantri barisan menuju loket imigrasi sambil menyeret handcarry bawaan, seorang petugas lalu mendekati dan menanyakan nama saya. Rupanya petugas tersebut sudah mendapat kabar bahwa akan ada seorang penumpang yang belum memperoleh visa dan harus mendapatkan visa on arrival. Saya membenarkan pertanyaannya bahwa saya memang harus mengambil visa on arrival setibanya di bandara Guatemala. Petugas wanita yang berbahasa Inggris patah-patah dengan aksen sangat latin itupun mengajak saya memasuki sebuah kantor. Setelah mempersilahkan saya duduk dan meminta passport saya, petugas itu meminta saya menunggu, sementara dia sendiri pergi meninggalkan ruangan.

    Malam itu, tidak ada penumpang lain yang memasuki kantor imigrasi. Cukup tercengang saya tatkala mengamati seisi ruang kantor tersebut. Di tahun 2002 itu kondisinya tidak lebih baik dari kondisi kantor-kantor imigrasi Indonesia era tahun 70-an. Dengan ubin (tegel) abu-abu yang retak di sana-sini, kantor tersebut hanya dilengkapi sebuah meja kerja kayu penuh baret, sebuah mesin tik manual serta sofa 3 dudukan yang tampak lusuh dan kempes busanya. Beberapa bingkai foto tampak menggantung di dindingnya yang kusam.

    Sambil menunggu saya mencoba mengamati setiap bingkai foto. Alamak! Ternyata 6 bingkai foto penghias dinding kantor imigrasi itu adalah foto para DPO (alias orang yang dicari diseantero negeri) di Guatemala. Kebetulan saya sedang mempelajari bahasa Spanyol. Sehingga walaupun belum fasih benar, beberapa kata dalam bahasa Spanyol cukup saya mengerti dengan baik. Memang saya sengaja mengatakan tidak bisa berbahasa Spanyol kepada petugas imigrasi di sana, karena khawatir saya justru tidak mengerti bila mereka berbicara dalam bahasa Spanyol dengan tingkat kecepatan tinggi (bahasa Spanyol termasuk bahasa yang kerap diucapkan oleh para penuturnya dengan kecepatan bicara yang tinggi, sehingga bila mereka berbicara nyaris terdengar seperti sedang merepet). Itu sebabnya saya bersikeras mengatakan bahwa saya hanya bisa berbahasa Inggris.

    Mereka yang fotonya terpampang itu dicari karena terlibat dalam perdagangan obat-obat terlarang dan senjata gelap atau kegiatan ilegal money laundry. ’’¡Se Busca!’’, begitu kalimat yang terpampang dalam huruf tebal dan besar di atas setiap foto mereka. ’’Wanted!!”, itulah artinya dalam bahasa Inggris, seperti yang sering kita lihat di film-film cowboy. Melihat wajah-wajah seram di foto itu saya kembali teringat ke ’’teman’’ duduk saya di pesawat menuju Mexico. Ih! Kembali saya bergidik ngeri. Ternyata pelaku kejahatan di sana tidak hanya didominasi oleh kaum pria. Rupanya kamu hawapun sudah turut beremansipasi. Di antara 6 foto itu terdapat 1 foto wanita, juga dengan tulisan Se Busca di atasnya.

    Selesai mengamati foto, sang petugas yang membawa passport saya belum juga datang. Sementara banyak petugas-petugas lainnya yang terlihat keluar masuk ruangan melihat ke arah saya. Tingkah mereka membuat saya tertawa geli. Tak ubahnya seperti orang Indonesia yang selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar bila melihat ada ‘’orang asing’’ datang. Begitupula kehadiran saya di sana bagi mereka. ‘’Wah! Berarti saya ini bule dong di sini’’, batin saya seraya terkekeh dalam hati.

    Sambil menunggu, ingatan saya kembali berputar ke asal muasal penyebab saya ‘’terdampar’’ di negeri ini. Sudah setahun lebih saya dan beberapa teman di kantor memang diminta oleh Direktur Utama kami saat itu untuk membantu kegiatannya di berbagai working group yang diikutinya. Tugas tim kecil kami adalah membantu menyiapkan materi pidato maupun bahan presentasi. Karena Indonesia tergolong dalam negara yang kondisi penerapan dan pengembangan Information and Communication Technology (ICT) dinilai sudah cukup baik, maka kelompok negara-negara non blok (NAM – Non Align Movement) meminta representatif NAM Indonesia untuk menyiapkan manual book (buku panduan) bagi negara-negara lainnya. Saat kepercayaan itu diberikan kepada beliau, tim kecil kamipun diminta untuk mempersiapkan buku panduan mengenai bagaimana melakukan penilaian terhadap kondisi kesiapan ICT di suatu negara, apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh negara tersebut untuk mengembangkan ICT nya serta dapat membuat teknologi ini terserap ke seluruh lapisan masyarakat.

    Tim kami mempersiapkan 3 buku panduan, dimana setiap buku diperuntukkan bagi negara dengan kondisi kesiapan ICT yang berbeda. Ada buku panduan untuk negara dengan kondisi ICT yang masih sangat mendasar dan belum terlalu berkembang (Manual for Basic level), sedang berkembang (Manual for Developing level) dan yang sudah sangat maju (Manual for Advance level). Disamping itu tim kamipun melengkapi buku-buku panduan tersebut dengan sebuah buku lagi bertajuk Self Assessment for E-Readiness, yang berisi panduan bagi setiap negara untuk dapat menilai sendiri kondisi perkembangan ICT nya, sehingga selanjutnya mereka dapat menerapkan buku panduan yang sesuai.

    Diterbitkan oleh representatif NAM Indonesia, ke-4 buku itu didistribusikan ke negara-negara anggota NAM lainnya. Ternyata negara-negara Amerika Latin dan kepulauan Karibia tertarik untuk mendapatkan pemaparan langsung dari delegasi Indonesia. Undanganpun dikirimkan kepada Direktur Utama kami saat itu, yang tergabung dalam keanggotaan di working group tersebut. Namun ternyata waktunya bertepatan dengan sebuah undangan seminar di negara lain yang harus beliau hadiri sebagai chairman. Tentu saja beliau tidak mungkin hadir di dua tempat berbeda dalam waktu bersamaan. Itu sebabnya saya ditunjuk untuk mewakili beliau menjadi pembicara di workshop yang diadakan di Guatemala tersebut. Ihwal mengapa hanya saya yang berangkat, disebabkan tim ini hanya terdiri dari 4 orang saja. Satu orang akan ikut mendampingi Direktur Utama kami, seorang anggota lagi baru saja mengundurkan diri (resign) karena akan melanjutkan kuliah ke luar negeri dan anggota tim lainnya mempunyai tugas yang tidak dapat ditinggalkan. Tentu saja Direktur Utama kami tidak bisa menunjuk orang lain di luar tim kami. Sebagai pembicara maka materi harus dibawakan oleh orang yang memang terlibat dalam penyusunannya dan mengerti benar isi buku-buku panduan tersebut. Maka jadilah saya yang ditugaskan untuk hadir menggantikan beliau. ‘’Mora, sudah saya putuskan bahwa kamu yang akan berangkat mewakili saya sebagai pembicara di sana. Saya sudah sampaikan ke pihak panitia agar dikirimkan undangan atas nama kamu’’, titah Direktur Utama kami saat itu.

    Terus terang saya cukup kaget dengan berita penunjukkan tersebut. Bukannya gentar dengan tugas sebagai pembicara utama. Sama sekali tidak, karena saya toh ikut terlibat dalam penyusunan buku-buku manual tersebut dan bahkan mempersiapkan penuh beberapa bab di dalamnya, sehingga saya tahu persis materi yang akan disampaikan. Saya hanya perlu persiapan lebih baik dalam teknik presentasi saja. Tapi... ke Guatemala seorang diri? ’’Hiks! Dimana tuh?’’, begitu yang terlintas di benak saya. Seorang dirinya mungkin tidak menjadi masalah. Toh semua tiket dan akomodasi sudah disediakan oleh panitia. Hanya saja saya tidak mempunyai gambaran sama sekali mengenai Guatemala. Memang saya pernah mendengar bahwa negara itu termasuk golongan negara-negara Amerika Latin. Namun saya tidak tahu persis dimana lokasinya, bagaimana kondisi dan situasi negara itu. Bagi saya, Guatemala saat itu sungguh in the middle of no where. Waduh! Apalagi kemudian saya mendapat kabar dari panitia di Jakarta bahwa kondisi di Amerika Serikat masih cukup ’’panas’’, membuat rute perjalanan saya harus diatur ulang (re-route), dari yang semula singgah di Amerika Serikat menjadi mengitari 3 benua.

    Teman-teman saya langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar saya yang dikirim ke sana seorang diri. Sebelumnya orang-orang di kantor tidak pernah ada yang ditugaskan sendirian, sekalipun hanya ke Bandung. Sedangkan saya, langsung dikirim seorang diri, ke negara nun jauh di sana. Ditambah tugas mempresentasikan materi dalam bahasa Inggris di depan peserta yang semuanya bertuturbahasa Spanyol. Ampun deh...

    Demi tidak mempermalukan diri sendiri, maka begitu mendapat penunjukkan, sayapun langsung mempersiapkan materi presentasi dengan sebaik mungkin. Tidak hanya materi presentasi, namun saya juga berlatih teknik presentasi dengan intonasi yang benar di bawah bimbingan seorang mantan Direktur Pusdiklat Departemen Luar Negeri. Seorang paman saya yang mantan Duta Besar mengenalkannya kepada saya. Sejumlah latihan yang meliputi penyajian presentasi, intonasi, artikulasi, menjaga eye contact, hingga bridging antar slide presentasi segera saya lakoni. Menjelang hari keberangkatan, bersama teman satu tim dan beberapa teman dekat lainnya, saya mensimulasikan workshop tersebut lengkap dengan sesi tanya jawab untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan. Singkat kata, semua peralatan ’’perang’’ disiapkan agar saya siap tempur.

    Lamunan saya terputus saat seorang petugas imigrasi lainnya tiba-tiba berdiri di hadapan saya dan menanyakan passport saya dalam bahasa Spanyol. ’’¿Donde esta su passaporte?’’, tanyanya. What?? ¡Dios Mio! Bukankah passport saya tadi sudah diserahkan ke seorang petugas lain dan belum juga dikembalikan. Saya mulai jengkel. Walaupun tidak fasih berbahasa Spanyol tapi kalau sekedar passaporte saya tahu persis artinya. ’’¡Vamos! su passaporte’’, suara petugas itu lagi, membuat saya semakin kesal. "Ih! ¡Por favor deh! Bagaimana tidak jengkel? Permintaan itu menunjukkan tidak adanya koordinasi di antara mereka. Di samping itu saya juga mulai khawatir kalau passport saya hilang, mengingat passport merupakan satu-satunya identitas seseorang di negara lain. Apalagi kala itu belum ada hubungan bilateral, sehingga sudah tentu tidak ada KBRI di Guatemala. Jadi saat dia kian meracau su passaporte – su passaporte, dalam hati saya sempat memaki ’’kepalamu passaporte’’. Beberapa petugas lainnya kemudian ikut bergabung mengitari saya, sekedar ingin mengetahui ada apa gerangan. Huh! Memangnya saya tontonan? Dan sebalnya lagi tidak ada satupun dari mereka yang berkerumun di sekitar saya itu bisa berbahasa Inggris (ternyata dari 7 petugas yang ada malam itu, hanya 2 orang yang bisa berbahasa Inggris, itupun dengan aksen latin yang sangat kental). Jadi untuk apa mereka bergabung kalau tidak bisa membantu? Harus saya akui, kondisi malam itu mirip yang sering terjadi di Indonesia. Masyarakat kitapun gemar sekali ‘’menonton’’ kehadiran orang asing, tanpa memberi pertolongan apapun.

    Walau kesal setengah mati, sambil mencoba mendinginkan kepala, saya mulai jelaskan, tentu dalam bahasa Inggris, bahwa passport saya sudah dibawa oleh seorang petugas wanita dan belum dikembalikan. Sang petugas tampak tidak memahami penjelasan saya, sehingga saya terpaksa memberi clue dalam bahasa Spanyol, ’’mi passaporte con la otra agente de imigracion, una mujer’’(terserah deh mau tata bahasanya bener kek, salah kek, yang penting dia bisa ngerti). Untung saja saya tadi sempat mengikuti arah gerak petugas yang membawa passport saya itu, sehingga sambil menjelaskan tangan saya menunjuk-nunjuk ke arah ruangan lain yang berada di dalam kantor itu. Akhirnya si petugas mengerti, dan berlalu dari hadapan saya. Kerumunan para petugas yang mengerubungi sayapun bubar. Sejurus kemudian dia datang lagi bersama si petugas wanita membawa passport saya yang sudah dilengkapi dengan visa on arrival.

    Urusan passport dan visa selesai. Sudah beres? Ternyata belum! Masalah lain kemudian datang. Saat visa telah diterbitkan pada jam 1.10 tengah malam itu, masalah berikutnya adalah saya tidak tahu siapa yang akan menjemput saya. Saat berangkat dari Jakarta saya memang diberitahu bahwa ada utusan panitia yang akan menjemput saya di bandara, tapi saya tidak diberitahu siapa namanya. Nah, sekarang bagaimana saya mencari dimana penjemput saya? Jadi saat sang petugas imigrasi mengatakan bahwa saya sudah boleh meninggalkan kantor mereka, saya mencoba menanyakan apakah ada yang datang menjemput saya. Ternyata petugas itupun tidak tahu dan tidak mendapat kabar apapun perihal penjemputan dari pihak panitia.

    Alamak! Bagaimana ini? Selain para petugas malam itu hanya tinggal saya sendiri penumpang yang masih berada di dalam bandara. Terdampar di bandara negeri orang, tengah malam buta, tanpa tahu harus kemana. Apalagi lokasi penyelenggaraan workshop itu bukan di Guatemala city, melainkan di Antigua. Dan saya sendiri tidak tahu dimana tepatnya lokasi Antigua itu. Masalah tambah pelik karena saya tidak tahu harus menghubungi siapa. Handphone GSM saya sudah jelas tidak berfungsi di negara yang saat itu menerapkan teknologi AMPS untuk sistem telekomunikasinya.

    Berusaha untuk tetap berpikir jernih agar tidak terbawa panik, maka saya berusaha menjelaskan ke petugas imigrasi di sana bahwa saya datang karena diundang untuk menjadi pembicara utama di sebuah workshop, sembari saya tunjukkan kembali copy surat undangan dari Menteri Komunikasinya. Jadi mestinya ada orang dari panitia yang datang menjemput saya, karena tanpa kehadiran saya sebagai pembicara utama tentu saja acara tersebut tidak dapat dimulai. Ini juga bukan Ge-eR! Tapi berdasarkan logika saja. Hal inilah yang membuat saya tetap tenang dan tidak panik. Saya pikir daripada saya keluar dari bandara di tengah malam yang gelap gulita tanpa tahu harus kemana lebih baik saya menunggu di bandara, kalau perlu sampai pagi. Seapes-apesnya pasti saat akan membuka acara besok pagi pihak panitia menyadari ketidakhadiran saya dan menyuruh orang untuk menjemput saya di bandara. Huff! Walau semula saya sempat merasa memanggul beban cukup berat sebagai pembicara utama, ternyata ada untungnya juga, karena kehadiran saya pasti ditunggu. Benar kata orang bijak, di setiap keadaan pasti ada hikmahnya.

    Dengan keyakinan bahwa kehadiran saya pasti dibutuhkan dan dicari, sayapun meminta petugas imigrasi itu melihat ke depan bandara kalau-kalau ada yang datang menjemput saya. ‘’Aneh juga’’, pikir saya. Di Indonesia, kalau panitia mengundang tamu dari negara lain, pasti akan ada orang yang diminta menjemput. Bahkan event organizer di Indonesia akan mengusahakan menjemput tamunya hingga ke dalam bandara, tentu setelah berkoordinasi dengan petugas bandara. Terus-terang saya pernah mendapat tugas untuk menyelenggarakan acara berskala internasional, sebuah Worldwide E-TDMA workshop bagi operator-operator telekomunikasi berbasis teknologi E-TDMA di seluruh dunia. Sehingga tahu persis proses yang biasa dilakukan saat harus menjemput tamu-tamu yang datang dari berbagai negara. Dalam hal ini kebanggaan saya sebagai orang Indonesia muncul. Ternyata orang-orang Indonesia jauh lebih profesional dalam menyelenggarakan acara.

    Setelah sedikit saya ’’paksa’’ akhirnya petugas imigrasi tersebut beranjak ke luar ruang bandara. Benar dugaan saya, ternyata sudah ada 2 orang yang ditugaskan menjemput saya, namun mereka tenang-tenang saja menunggu di luar bandara tanpa berusaha memberi tahu ke petugas bandara. Walah! ’’Wong londo kok bodo tenan’’, umpat saya dalam hati. Dengan mengendari mobil, sayapun diantar ke Antigua, lokasi penyelenggaraan workshop.

    Tiba di Antigua

    Sekitar jam 2.15 pagi saya tiba di sebuah hotel di kota Antigua. Segera setelah check in, sayapun masuk ke dalam kamar. Penat rasanya badan ini. Namun mengingat workshop akan berlangsung jam 9 pagi di hari yang sama, maka saya tidak bisa langsung tidur. Beberapa persiapan harus saya lakukan seperti baju yang akan dikenakan, materi presentasi, hingga memasang alarm di weker yang saya bawa agar dapat terbangun. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari ketika akhirnya saya terlelap. Sesaat sebelum tertidur, saya baru menyadari bahwa hari itu sudah tanggal 26 September 2002, sedangkan saya berangkat dari Jakarta tanggal 24 September 2002. Berarti ada satu hari penuh yang saya habiskan di perjalanan. Tanpa saya sadari ternyata saya sudah melewati tanggal 25 September 2002 entah di darat atau bahkan di udara.

    Weker yang berbunyi nyaring dan riang membangunkan saya pada pukul 6 pagi. Ya... weker warna merah cabai berbentuk ikan paus gendut dan lucu milik adik sepupu saya, yang saat itu selalu memilih tinggal di rumah orang tua saya setiap kali liburan sekolah tiba, memang sangat berjasa membangunkan saya dari tidur nyenyak selama 3 jam saja. Bunyi alarmnya yang nyaring ’’menyanyikan’’ aneka lagu asing anak-anak seperti London Bridge, Father Jacob, Row-row-row your boat dan sejumlah lagu lainnya seakan memberi semangat. Saya memang sengaja membawanya karena biasanya bunyi alarm di handphone yang sayup-sayup tidak akan mempan membangunkan saya bila sudah tertidur pulas.

    Jam 8 pagi saya turun ke ruang makan untuk sarapan bersama peserta lainnya. Di sana saya berjumpa dengan rombongan perwakilan kantor NAM dari Jakarta yang sudah cemas menunggu kedatangan saya. Ya... karena proses imigrasi yang cukup lama membuat saya datang terlambat hampir 2 jam dari waktu yang mereka perkirakan. Tepat jam 9 pagi workshop dibuka, didahului dengan foto bersama seluruh peserta. Setelah kata pembuka dari penyelenggara acara, sayapun dipersilahkan untuk mulai memaparkan materi presentasi saya (http://www.csstc.org/reports/egm/e-readines_gt/attachments.htm). Aha! Beberapa peserta tampak tercengang. Mungkin mereka heran, ada ’’anak kecil’’ dari mana ini kok berani-beraninya jadi pembicara utama? Selain seorang nenek lanjut usia, memang boleh dibilang ukuran tubuh saya termasuk mungil di antara para peserta yang rata-rata berukuran jumbo.

    Ajaib!! Sepanjang presentasi tidak sedikitpun rasa kantuk menghampiri saya. Padahal saya hanya tidur selama 3 jam setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Dengan lancar saya paparkan isi materi dari buku panduan yang sudah dirangkum itu, berikut tujuan dan penerapannya. Saat sesi tanya jawab, berbagai pertanyaanpun dapat saya jawab tanpa beban. Hari ke dua workshop berlangsung dalam bentuk berbagi info kondisi ICT di masing-masing negara peserta. Setiap peserta memaparkan profil ICT di negaranya masing-masing. Sayapun berhasil melaluinya tanpa rasa lelah.

    Di sela-sela obrolan santai dengan sesama peserta barulah saya mengerti ternyata kebanyakan dari mereka sama sekali tidak menyangka bahwa ada seorang wanita muslim menempuh perjalanan demikian panjang seorang diri ke negara lain, menjadi pembicara di sebuah seminar. Bayangan mereka, wanita Islam di Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak, hampir seperti wanita Islam di Afghanistan yang terkungkung di bawah dominasi kaum pria, tidak mendapat kesempatan untuk belajar dan berkembang. Tidak heran, karena sejak tragedi 9/11 itu, banyak media-media asing yang memuat kisah-kisah penderitaan wanita-wanita di Afghanistan dan memberikan gambaran yang salah kepada dunia mengenai wanita muslim yang selalu terkungkung dan tertindas di bawah dominasi para pria.

    Alhamdulillah... workshop selama 2 hari itu berlangsung lancar. Sayapun sempat diminta untuk menjadi moderator di hari ke 2, walaupun permintaan awal di undangan hanya sebagai pembicara utama saja. Seorang peserta yang sudah sangat lanjut usia, entah kenapa, sangat memperhatikan saya. Begitu tahu cerita perjalanan saya dari Jakarta hingga ke Guatemala, nenek ini hampir selalu mendampingi saya. Sehingga saya merasa tenang dan nyaman, sekalipun jauh di negeri asing. Sungguh saya sangat terharu, karena saya merasa sepertinya Yang Maha Kuasa memberikan seorang nenek yang sangat baik hati dan penuh perhatian menjaga saya persis seperti nenek saya tercinta yang baru saja meninggal satu setengah tahun sebelumnya. Bahkan saat saya perhatikan kembali fotonya, penampilan nenek inipun mirip sekali dengan penampilan nenek saya. Oooh... adakah ini sebuah kebetulan belaka...? Ataukah memang sudah kehendak Yang Maha Penyayang sebagai salah satu bentuk kasihnya kepada saya?

    Sebelum bertandang ke Guatemala, belum pernah saya menemukan begitu banyaknya hidangan yang berbahan baku pisang. Ya, pisang! Di Guatemala, pisang tidak hanya sekedar dimakan sebagai buah, atau dihidangkan sebagai cemilan. Hampir seluruh hidangan yang tersaji di saat sarapan, makan siang hingga makan malam berbahan dasar pisang. Mulai dari makanan pembuka, hidangan utama hingga penutup terdiri dari aneka olahan pisang. Ada pisang yang dibuat menjadi semacam acar. Lalu pisang yang dipotong-potong dan dimasak bersama daging. Sebuah pengalaman baru dan unik bagi saya yang selama ini hanya menyantap pisang sebagai buah, pisang goreng, kripik pisang atau cake pisang saja. Sungguh sebuah Banana Republic.

    Antigua yang Cantik

    Hari terakhir di Antigua, saya sempatkan untuk berkeliling kota. Antigua, sebuah kota tua yang cantik, dikelilingi oleh pegunungan, ternyata hanya berjarak tempuh 20 hingga 45 menit dengan mobil dari Guatemala city, tergantung pada kepadatan lalulintas. Khas sebuah kota di negara bekas kolonialisasi Spanyol, alun-alun kota tersebut dengan mudah dikenali dengan adanya balaikota, gereja, taman serta fasilitas publik lainnya. Sebagaimana kota di daerah pegunungan, udara di kota tersebut cukup dingin. Pemandangan yang terhampar sangat indah dan cantik. Deretan pegunungan nan hijau tampak sejauh mata memandang. Bahkan setiap kali saya melempar pandang ke luar jendela kamar hotel.

    Konon dahulu Antigua inilah yang menjadi ibukota dari Guatemala. Meletusnya gunung berapi puluhan tahun silam yang meluluhlantakkan kota tersebut membuat ibukota kemudian dipindahkan ke Guatemala city. Dan Antigua dengan segala keindahan alamnya menjadi kota pariwisata.

    Ditelisik dari segi asal usul maka penduduk Guatemala dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu asli Indian, keturunan Spanyol dan campuran antara Indian dan Spanyol. Hadirnya warga keturunan Spanyol disebabkan negara ini pernah lama dikuasai oleh salah satu negara kerajaan di Eropa itu. Pendudukan oleh Spanyol ini membuat warga keturunan Indian di sanapun sudah menggunakan bahasa Spanyol dalam keseharian mereka.

    Selain hamparan pemandangan indah yang melatarinya, terdapat banyak pengrajin batu Jade di sana. Menurut cerita, batu Jade dari Antigua sesugguhnya berkualitas lebih bagus dibandingkan batu Jade dari tambang-tambang di China, karena usia tambang di Antigua jauh lebih tua. Namun, batu Jade olahan Antigua kalah mahsyur karena sebagian besar orang Guatemala mengolahnya menjadi pajangan, khususnya yang berbau ritual Indian Maya, suku Indian tertua yang merupakan penduduk asli Guatemala. Jade dari Guatemala yang berwarna gelap seperti hijau tua, merah maroon dan hitam memang jarang sekali diolah menjadi perhiasan sebagaimana olahan batu Jade dari China yang berwarna hijau cerah. Saya sempat berkunjung ke salah satu bengkel pengolahan batu Jade di sana dan melihat cara mengolahnya. Sebuah patung kepala suku Indian Maya yang terbuat dari batu Jade indah terdiri dari 3 warna sempat saya beli sebagai kenang-kenangan.

    Walaupun kota kecil, namun kota ini cukup bersih. Saya tidak menemukan satu sampahpun tercecer di sana. Para pedagang asongan yang banyak menawarkan barang kepada para turis, juga tidak terlihat memaksakan dagangannya. Sebuah budaya yang patut ditiru. Ketika saya sempat berjalan-jalan di malam hari, saya melihat banyak penduduk yang homeless, tidur di emperan pertokoan. Mereka tidak jobless, karena umumnya masih bekerja di sektor-sektor informal. Tatkala saya kembali melewati area tersebut keesokan paginya, tidak tampak sama sekali bahwa daerah itu digunakan sebagai tempat tidur di malam hari. Tanpa sampah terserak ataupun bau menyengat. Selama 3 hari saya berada di sana, tidak satu pengemispun saya jumpai. Semua warga berusaha memperoleh uang dengan bekerja menurut kemampuan dan keahlian mereka, walau memang masih banyak dari mereka yang bekerja di sektor informal, entah itu mengasong atau menjadi pemandu turis tak resmi. Padahal bila ditilik dari tingkat pendidikan, tentulah mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi. Negaranyapun bukanlah sebuah negara yang super maju. Sepertinya masyarakat setempat memang telah membiasakan budaya seperti itu dalam kehidupannya.

    Dalam hal ini, boleh dibilang saya merasa agak malu, bila mengingat berbagai berita tawuran yang marak menghiasi media-media di tanah air. Mulai dari tingkat pelajar, warga hingga aparat, sepertinya semua permasalahan diselesaikan lewat tawuran. Belum lagi, sampah yang menggunung di mana-mana. Sungai yang mendangkal oleh aneka timbunan sampah. Pengemis yang kian hari kian menjamur. Hingga penggusuran di sana-sini yang acap disertai dengan kericuhan. Sungguh jauh dari cerminan masyarakat yang beradab dan berbudaya.

    Ke Guatemala City

    Hari ke tiga, saya beserta rombongan dari Indonesia bergerak ke Guatemala city dan memutuskan untuk singgah di sana selama 2 malam. Pagi hari pertama kami di Guatemala city, kami mengunjungi mall yang berada paling dekat dengan hotel dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja. Jangan bayangkan seperti mall-mall mewah dengan interior nan megah yang banyak berdiri memenuhi setiap sudut kota Jakarta. Mall yang kami kunjungi di sana jauh dari kesan mewah.

    Puas mengelilingi mall yang tidak seberapa besar dan hanya terdiri dari 4 lantai itu, saat makan malam kamipun memutuskan untuk mengisi hari esok dengan berpencar. Hal ini dikarenakan kami memiliki keinginan dan tujuan yang berbeda. Agar tidak membuang waktu maka kami sepakat untuk berjalan sendiri-sendiri dan bertemu lagi di hotel saat makan malam.

    Saya yang gemar berburu barang-barang etnik produksi masyarakat setempat, langsung mencari tahu di mana lokasi toko untuk membeli typical product. Setelah mendapat informasi dari front desk di hotel, sayapun berjalankaki menuju lokasi tersebut yang hanya berjarak beberapa blok saja dari hotel. Sebagai negara bekas jajahan Spanyol, tata kota di negara tersebut dibuat dalam blok-blok seperti kebanyakan negara-negara di Eropa, sehingga tidak sulit untuk mencari sebuah alamat.

    Sembari menyusuri jalan demi jalan, sayapun memperhatikan keadaan sekeliling. ¡Dios Mio! Tidak terlihat jalan berlubang maupun sampah berserakan di sana. Semua terlihat rapi dan bersih. Lagi-lagi tak ada pengemis yang tampak berkeliaran di sepanjang jalan. Bahkan pinggir setiap jalan telah dilengkapi dengan parking meter sehingga tidak tampak adanya parkir liar.

    Memang daerah yang saya kunjungi tersebut termasuk wilayah elit di Guatemala city, dimana terdapat banyak hotel berbintang, mirip seperti segitiga emas di Jakarta. Tapi di ibukota republik tercinta ini, yang bernama kota megapolitan Jakarta, segala bentuk kesemrawutan, gunungan sampah, jalan berlubang besar dan dalam, hingga parkir liar kerap menjadi pemandangan sehari-hari dan marak terjadi sekalipun di area segitiga emas.

    Lokasi penjualan typical product tersebut ternyata mirip dengan pasar seni di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, hanya dalam area lebih kecil. Terdapat sejumlah toko-toko kecil yang semuanya menjual produk-produk etnik. Saya hampir kalap membeli berbagai jenis produk etnik tersebut. Beberapa lembar table runner dan sarung bantal kursi yang dibuat dari bahan tenunanpun saya boyong. Kain tenun Guatemala hampir mirip dengan kain tenun Sumbawa - Nusa Tenggara. Hanya saja motif dan coraknya lebih berwarna. Khas kain tenun suku Indian, yang pernah saya jumpai pula saat berkesempatan berkunjung ke Grand Canyon yang terletak di negara bagian Arizona – Amerika Serikat beberapa tahun sebelumnya.

    Dengan belanjaan yang cukup banyak akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan taxi, apalagi saat itu hujan gerimis mulai turun. Cukup nekat, dengan bahasa Spanyol seadanya saya minta diantarkan ke hotel tempat saya menginap. Untunglah ibu pemilik toko tempat saya berbelanja aneka ragam produk etnik, berbaik hati membantu menjelaskan kepada sang sopir taxi yang mengantarkan saya kembali ke hotel dengan selamat.

    Usai menaruh aneka belanjaan di kamar, saya kembali berjalan ke mall terdekat untuk mencari makan siang. Sebuah café di lantai dasar menjadi pilihan saya. Seraya menikmati makan siang, sayapun mengedarkan pandang berkeliling. Sebuah pemandangan menarik saya temui. Mulai dari kasir, pelayan hingga tukang pel rata-rata berwajah cantik dan tampan. Sepertinya sulit mencari orang jelek di sana. ’’Wah! Kalau di Indonesia sih, tampang seperti ini sudah jadi artis deh’’, batin saya dalam hati. ‘’Biarpun karbitan, alias tidak berbakat, yang penting tampang OK’’, sambung batin saya. Tengok saja wajah-wajah yang banyak berseliweran di layar kaca dan yang menghiasi beragam media di tanah air. Hampir semua berwajah indo! Entah indo apa saja, asalkan blasteran pasti akan ’’bernilai jual’’. Mulai dari blasteran China atau yang istilah kerennya berwajah oriental, blasteran aneka negara Eropa, blasteran Amerika, hingga Arab, India atau Pakistan. Seakan paras asli pribumi kurang sedap dipandang mata, sehingga kurang laku di pasaran. Kalaupun berwajah pribumi maka pastilah keseksian tubuh yang menjadi daya jual.

    Tak terasa sudah 2 malam kami di Guatemala city. Malam terakhir di sana kami habiskan dengan hang out bersama di sebuah café tak jauh dari hotel. Rencana kami hendak ke Tikal, sebuah lokasi tempat dimana kita bisa melihat candi-candi suku Indian Maya akhirnya batal dilaksanakan. Jauhnya jarak yang harus ditempuh dari Guatemala city ke Tikal dan waktu kami yang sangat terbatas menjadi penyebab kami mengurungkan niat tersebut. Sungguh sayang sebenarnya, mengingat entah kapan lagi kami dapat mengunjungi Guatemala. Sebagai penghibur hati, sayapun membeli beberapa pajangan miniatur candi suku Indian Maya yang semestinya dapat saya saksikan di Tikal.

    Kembali ke Jakarta

    Sebagaimana perjalanan menuju ke Guatemala, maka perjalanan yang harus kami tempuh untuk kembali ke Jakarta tetap melintasi 3 benua. Sebuah pesawat AeroMexico membawa kami berangkat dari Guatemala menuju Mexico. Tiba di Mexico city, entah kenapa kami merasa mendapat perlakukan diskriminasi. Saat mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia, kamipun diminta keluar dari antrian dan menuju kantor imigrasi. Di sana kami harus mengisi sebuah formulir lagi. Seorang bapak di rombongan kami sempat terlibat perdebatan cukup sengit dengan petugas imigrasi yang mempermasalahkan nama di passport yang hanya terdiri dari 1st name (kala itu passport Indonesia memang belum mewajibkan penulisan nama hingga lengkap dengan middle name dan family name). Beruntung nama saya selalu dilengkapi dengan nama ayah dan marga, sehingga saya selalu aman, terhindar dari masalah seperti ini.

    Setelah urusan formulir dan nama beres, kamipun diperbolehkan menuju ke boarding room. Sementara menunggu, saya sempatkan untuk membeli beberapa cendera mata khas Mexico. Sebuah pajangan miniatur candi suku Indian Aztec pun saya bawa sebagai buah tangan. Ternyata candi suku Indian Aztec yang menjadi penduduk asli Mexico sedikit berbeda dengan milik suku Indian Maya di Guatemala. Tampak lebih pendek dan lebar. Saya jadi penasaran dengan bentuk candi suku Indian Inca yang konon merupakan pemukim asli di wilayah Peru. Sayang sekali saya belum sempat berkunjung ke Peru. Ingin rasanya suatu saat pergi ke sana. Tak banyak waktu yang dapat saya gunakan untuk melihat-lihat di duty free shop karena tak lama kemudian panggilan untuk masuk boarding room segera terdengar. Dengan menumpang pesawat AeroMexico kami terbang menuju Paris.

    Di dalam pesawat, kembali saya merasa mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari seorang pramugari. Sikapnya terkesan tidak menggubris tatkala saya memintanya mengambilkan mineral water. Bahkan saat saya mengulangi permintaan saya. Beruntung seorang bapak setengah baya yang duduk di sebelah saya turun membantu. Bapak, yang belakangan saya ketahui merupakan pelanggan tetap maskapai itu, langsung meminta sang pramugari untuk segera memenuhi permintaan saya. Lagi-lagi, Yang Maha Adil mengirimkan seorang guardian angel untuk saya.

    Saya tak tahu persis apa penyebab dari berbagai perlakuan yang tidak sewajarnya itu kepada kami. Namun beberapa bulan kemudian terbetik berita di berbagai media tanah air tentang rombongan pejabat Indonesia yang dideportasi saat baru mendarat di bandara Aeropuerto, Mexico. Desas-desus yang beredar, Mexico termasuk negara yang kerap mencurigai Indonesia sebagai negara ’’sarang teroris’’ sejak terjadinya tragedi black september.

    Pesawat baru saja mengudara selama 30 menit, saat captain pilot tiba-tiba mengumumkan bahwa pesawat tidak bisa melanjutkan penerbangan ke Paris dan harus segera kembali ke Mexico dengan alasan ada kerusakan pada sistem pendingin udara. Kami bersiap-siap untuk mendarat. Sebuah bis dengan forklift yang dapat mengangkat ’’badannya’’ menjemput para penumpang hingga di pintu pesawat dan mengantarkan kami kembali ke boarding room.

    Entah apa penyebab pasti pesawat tersebut harus kembali ke Mexico, karena hingga mendarat pendingin udara masih terasa berfungsi dengan baik. Namun sebuah pemandangan janggal terlihat saat pesawat mendarat. Sejumlah mobil polisi, pemadam kebakaran dan ambulans telah tampak bersiap-siaga di landasan.

    Tertunda selama lebih dari 2 jam, akhirnya kami diberangkatkan kembali dengan pesawat lain menuju Paris. Tiba di bandara Charles De Gaulle, Paris, pesawat yang seharusnya membawa kami ke Singapura tentu telah berangkat. Bergegas kami pergi ke check in counter untuk menjadwalkan kembali keberangkatan kami pada penerbangan berikutnya. Ternyata hanya tersisa 1 kursi kosong di penerbangan Air France dengan jadwal terdekat. Dengan pertimbangan saya satu-satunya wanita dan agar tidak terlalu lama tertunda maka diputuskan sayalah yang berangkat lebih dahulu dengan Air France yang akan terbang 1 jam lagi. Semua bagasi rombongan kami akan ikut terbang bersama saya. Sedangkan ke 2 bapak dalam rombongan kami akan diberangkatkan dengan pesawat Qantas yang terbang 3 jam kemudian.

    Sempat terjadi kesalahpahaman saat kami meminta petugas di check in counter membantu kami memberi informasi ke Singapura perihal keterlambatan kami agar petugas di sana dapat menjadwalkan kembali penerbangan kami ke Jakarta. Berkali-kali dijelaskan, sang petugas tampak tidak paham juga. Dia bahkan berpikir bahwa kami ingin menunda kepulangan kami hingga hari berikutnya. Dengan kesal seorang bapak di rombongan kami menggerutu, ”Weleh-weleh... bule kok geblek, dibilangin ora mudeng-mudeng’’. Saya hanya meringis mendengarnya. Yaaa... setelah mendapat beberapa kesempatan bertemu orang asing, kenyataannya belum tentu semua orang asing yang cas-cis-cus berbahasa asing itu pasti lebih pintar. Hanya saja orang Indonesia selalu silau dengan segala hal yang berlabel ’’Made in Luar Negeri’’. Semua yang berasal dari luar negeri dianggap pasti lebih hebat. Tidak hanya masyarakatnya yang memiliki pola pikir demikian, namun sayangnya juga Pemerintahnya. Tak heran bila dukungan dan perlindungan dari Pemerintah terasa sangat minim dalam menjamin kepastian kesamaan hak dan naungan hukum bagi para pekerja pribumi. Padahal begitu banyak orang Indonesia yang juga pandai, bahkan jauh lebih pandai dari para pekerja asing. Banyak generasi muda di Indonesia yang menyimpan potensi demikian besar. Lihat saja betapa anak-anak muda negeri ini kerap meraih berbagai gelar juara. Mulai dari juara di berbagai cabang olahraga hingga juara di sejumlah olympiade matematika dan science. Namun perhatian pemerintah di negeri sendiri yang sangat minim atas kelanjutan pendidikan mereka membuat banyak anak muda berbakat milik negeri ini hengkang dan menetap di negara lain yang sigap memanfaatkan potensi mereka dengan menawarkan berbagai beasiswa dan kesempatan kerja. Melihat perdebatan kami, akhirnya atasan sang petugas turun tangan membantu dan berjanji akan segera menghubungi pihak maskapai di Singapura.

    Sayapun kembali menempuh perjalanan Paris – Singapura seorang diri. Tiba di Singapura, menyadari keterlambatan jadwal sebagai akibat tertundanya penerbangan dari Mexico, sayapun bergegas menuju ke check in counter maskapai Singapore Airlines guna memastikan keberangkatan saya. Lega hati ini saat mengetahui bahwa nama saya telah dijadwalkan kembali pada penerbangan terdekat. Bersama Singapore Airlines sayapun menempuh rute terakhir dari perjalanan panjang saya kali ini, kembali ke Jakarta.

    Saya baru saja menapakkan kaki keluar dari pintu pesawat di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, ketika mata saya menangkap seorang petugas bandara yang mengacungkan sebuah papan bertuliskan nama saya. Sungguh heran saya, ada apa gerangan hingga saya dijemput secara khusus? Apalagi saya merasa bukanlah pejabat yang biasa mendapat perlakuan khusus seperti itu. Sayapun berjalan mengikuti sang petugas, yang ternyata membawa saya ke kantor lost and found milik maskapai Singapore Airlines. Petugas bagage handling itu memberi tahu saya bahwa setelah memeriksa daftar penumpang dan bagasi, dia merasa heran karena sayalah satu-satunya penumpang yang tidak membawa bagasi. Dan itu tidak lazim untuk penerbangan jarak jauh. Sehingga dia hendak memastikan apakah saya memang tidak membawa bagasi sama sekali. Hah?! Bukankah semestinya saya justru membawa cukup banyak bagasi, mengingat semua koper rombongan kami ikut bersama saya? Usut punya usut, ternyata koper-koper kami masih tertinggal di bandara Charles De Gaulle, nun jauh di Paris! Petugas check in counter di sana lupa memberi tanda sehingga koper-koper kami tidak dimuat ke dalam pesawat berikutnya. ’’Dasar bule geblek’’, sungut saya dalam hati. Kesal! Untunglah saya kembali ke Jakarta dengan maskapai Singapore Airlines, maskapai yang tersohor dengan tanggungjawab dan profesionalitas layanannya. Tanpa menunggu keluhan dari penumpang, petugas maskapai tersebut telah mendeteksi adanya permasalahan lebih dahulu dan membantu mencarikan solusinya. Petugas itu segera menghubungi perwakilan maskapainya di bandara Charles De Gaulles untuk mengirimkan koper-koper kami dengan penerbangan Singapore Airlines berikutnya dan berjanji akan mengantarkannya langsung ke rumah saya. Sungguh sebuah layanan yang prima.

    Dengan hanya menyeret sebuah handcarry, sayapun melangkah pulang. Letih badan ini serta rasa kangen yang memuncak membuat saya ingin segera tiba di rumah. Namun perjalanan nan panjang ini sungguh memberi kesan tersendiri bagi saya. Banyak pengalaman dan pelajaran yang dapat saya petik. Sejak itu sayapun jadi menyukai travelling seorang diri. Memang terkadang repot mengurus segala hal sendiri namun bepergian sendiri memberi kebebasan untuk mengatur waktu melakukan hal-hal yang kita inginkan.

    -PriMora Harahap-

    May 2010

    note:
    tulisan ini diunggah dan dimuat juga di blog Kompasiana Kompas.com) dan Detik blog Detik.com) pada kategori umum dan perjalanan serta di PriMora’s blog
    (@ http://primoraharahap.blogspot.com/)

  • De Nosotros Para Nosotros

    ‘’De Nosotros Para Nosotros’’ sebuah kalimat dari bahasa Spanyol yang berarti ’’Dari Kami Untuk Kami’’, sungguh terasa memberi semangat dan warna pada reuni akbar SD Mexico Pagi Jakarta, sejak dari masa persiapan hingga terselenggaranya acara itu. Perhelatan yang diadakan pada pertengahan Desember 2009 silam berhasil mempertemukan teman-teman lama, para alumni sekolah dasar ini dari lulusan pertama di tahun 1962 hingga lulusan tahun 2000 dengan guru-guru purna bakti yang pernah mengajar maupun yang masih aktif mengajar hingga saat ini. Reuni yang diadakan setelah sekian tahun bahkan puluhan tahun kami meninggalkan sekolah formal pertama yang menempa kami dengan berbagai ilmu pengetahuan, mampu melayangkan kembali ingatan kami ke masa kanak-kanak.

    Sekolah dasar yang terletak di jalan Hanglekir, bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini memang telah berdiri sejak lama. Bahkan di lingkungan keluarga saya, beberapa tante dan oom sayapun dulu bersekolah di sana. Konon, gedung yang digunakan sebagai sekolah dasar tersebut adalah bekas gymnasium di masa pendudukan Belanda, yang berlanjut menjadi asrama tentara Jepang dan akhirnya dialihfungsikan sebagai sekolah oleh pemerintah Indonesia.

    Di awal berdirinya, sekolah dasar ini mendapat nama ’’Escuela Republica de Mexico’’ atau ’’SD Republik Mexico’’. Nama itu memang membuat banyak orang mengira bahwa sekolah tersebut adalah sekolah swasta atau sekolah di bawah pengelolaan kedutaan besar Mexico. Namun, sesungguhnya sejak awal berdirinyapun sekolah tersebut telah berstatus sekolah negeri. Penamaan bernuansa Mexico diberikan sebagai bentuk persahabatan antara Republik Indonesia dan Republik Mexico. Sebagaimana halnya dengan SD Republik Argentina yang berlokasi di wilayah Menteng. Sehingga menurut kabar yang kami dengar, di negara Mexico maupun Argentina juga berdiri sekolah dasar dengan nama Sekolah Republik Indonesia.

    Seperti kebanyakan sekolah negeri di republik ini, karena keterbatasan gedung sekolah, maka umumnya setiap gedung digunakan 2 kali dalam sehari oleh 2 sekolah yang berbeda. Ya, benar-benar berbeda murid, guru dan kepala sekolah. Demikian halnya dengan SD Mexico (begitu kami menyebutnya), sekolah itupun terbagi atas SD Mexico Pagi dan SD Mexico Petang.

    Sebenarnya tidak ada yang terlalu berbeda dengan sekolah-sekolah negeri lain. Hanya saja sebagaimana penamaannya, murid-murid yang bersekolah di sana mendapatkan ekstrakurikuler tambahan berupa tari-tarian Mexico, yang mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Mexico di Jakarta. Disamping drumband, angklung dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat menjadi pilihan, setidaknya ada 2 jenis tarian Mexico yang kami pelajari selama bersekolah di sana.

    Setiap upacara di hari Seninpun kami selalu mengibarkan 2 bendera, Indonesia dan Mexico. Dengan iringan lagu kebangsaan dari setiap negara, membuat kami sejak lama telah fasih menyanyikan ’’Hymne Mexicanos’’, walau saat itu kami tidak mengerti satu baitpun arti dalam lagu kebangsaan Mexico tersebut. Hari proklamasipun kami rayakan 2 kali dalam setahun. Seingat saya, Duta Besar Rep. Mexico untuk Indonesia selalu menyempatkan diri untuk datang ke sekolah kami, disetiap perayaan hari proklamasi Mexico yang jatuh pada tanggal 15 September. Biasanya kamipun menyiapkan diri dengan berbagai pertunjukan tari-tarian Mexico dan drumband untuk merayakan hari tersebut.

    Entah sejak kapan, sekolah itupun kemudian berganti nama. Saya tidak tahu persis, karena di ijasah kelulusan SD saya masih tercantum SD Rep. Mexico Pagi. Kini sekolah tersebut bernama SDN Gunung 05 Pagi sebagai pengganti nama SD Rep. Mexico Pagi dan SDN Gunung 06 Petang untuk pengganti SD Rep. Mexico Petang. Khas penamaan sekolah negeri di Indonesia, yang diurutkan berdasarkan kelurahan tempat sekolah berada. Entah apa yang melatarbelakangi perubahan nama tersebut. Saya menduga, pemerintah tidak ingin ada ’’kecemburuan’’ ataupun salah pengertian lagi mengenai status sekolah tersebut oleh masyarakat umum, karena SD Rep. Argentina juga mengalami nasib yang sama, berubah nama menjadi SDN Gondangdia, sesuai kelurahan tempat sekolah itu berada.

    Begitupun, ketika kami berkunjung ke sana, papan nama bertuliskan ’’Escuela Republica de Mexico’’ yang sudah mulai menguning masih terpampang di tembok depan sekolah. Tari-tarian Mexico juga masih diajarkan. Sehingga kami tetap menganggap bahwa seluruh lulusan sekolah itu, angkatan berapapun, adalah bagian dari keluarga besar alumni SD Rep. Mexico Pagi.

    Dimulai sejak pukul 09.00 pagi, reuni akbar yang bertema ’’De Nosotros Para Nosotros’’ dan mengambil tempat di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jakarta itu berlangsung meriah. Nuansa Mexico sangat terasa sejak pintu masuk hingga dalam ruangan. Kain-kain berwarna merah-putih-hijau yang merupakan warna dasar bendera Mexico membentang di sepanjang dinding ruangan. Berbagai atribut seperti Topi Sombrero, badge seragam saat masih bernama SD Rep. Mexico Pagi, hingga peralatan drumband turut dipajang di sudut-sudut ruangan. Begitu tiba, para alumni langsung mendapatkan kaos berwarna merah-putih-hijau dengan tulisan ’’Una Grande Reunión de Escuela Republica de Mexico’’. Kaos yang wajib kami pakai selama acara berlangsung itu membuat keakraban dan rasa persahabatan begitu terasa sebagai sesama alumni dari sekolah dasar yang sama. Kamipun dapat puas berfoto dengan latar belakang berbagai atribut khas Mexico.

    Berbagai acarapun digelar. Kami tertawa geli saat melihat pertunjukan operet ’’Hari-hariku di SD Mexico’’. Terbayang kembali segala tingkah lucu dan kenakalan kami saat bersekolah dulu. Demo angklung dan marching band – salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi kebanggaan kami – turut memeriahkan acara ini. Tari-tarian Mexico yang memberi kebanggaan kepada kami sebagai alumni dari sekolah ini dipentaskan kembali oleh murid-murid sekolah ini. Demikian bangganya kami dapat menarikan beberapa tarian Mexico, sehingga saat beberapa diantara kami bertemu kembali di sekolah menengah, biasanya kami – para alumni SD Mexico – kerap menyuguhkan tarian ini di pentas seni sekolah, yang membuat kami tampil beda dengan alumni dari sekolah dasar lainnya.

    Kegiatan demi kegiatan dipentaskan oleh murid-murid SD tersebut. Menyaksikan peragaan semua kegiatan ekstrakurikuler itu membuat seluruh kenangan manis masa lalu melintas kembali di benak kami. Aah...! Rasanya seperti baru kemarin kami yang melakukan seluruh kegiatan itu dengan gembira.

    Setiap angkatanpun diberi kesempatan untuk berfoto bersama. ¡Dios Mio! Angkatan kami sempat terkikik geli kala melihat angkatan yang jauh di atas kami dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi berfoto bersama di atas panggung, persis sesudah angkatan kami mendapat giliran berfoto. Pasalnya angkatan tersebut telah lulus SD pada saat kami baru lahir!! Tidak perduli dengan usia yang telah menua, tingkah mereka saat berkumpul tak ubahnya seperti saat masih bersekolah dulu.

    Rekaman kegiatan reuni yang pernah diadakan setiap angkatanpun menjadi tayangan yang melatari sesi foto bersama. Tak lupa pula foto-foto dokumentasi selama masa sekolah yang dapat dikumpulkan dari setiap angkatan. Untuk angkatan-angkatan tahun 60-70an, tentulah foto-foto tersebut masih hitam putih. Seakan tak percaya waktu tlah berlalu demikian cepat, ketika melihat kembali wajah-wajah polos kami tertayang di layar sana.

    Bertemu dan bercengkerama kembali bersama teman-teman yang sudah demikian lama tidak berjumpa, serta guru-guru yang pernah mengajar kami dengan penuh kesabaran membuat kami merasa tidak ingin mengakhiri reuni ini. Rasa sedih tak pelak terasa saat menyadari bahwa beberapa guru dan bahkan teman-teman kami telah ’’pergi’’ mendahului kami. Ooh...! Andai saja waktu dapat berputar kembali ke masa kanak-kanak saat dunia selalu terasa demikian indah.

    Sebagai tanda terima kasih atas jasa para guru yang telah mendidik kami, sejumlah penghargaan diberikan kepada mereka. Tentu nilai penghargaan ini tidak ada artinya dibandingkan dengan jerih payah dan kesabaran yang telah mereka berikan kepada kami.

    ¡Felicitaciones para todos los comités por la grande reunión!

    Tentu bukan perkara mudah mengumpulkan sekian banyak alumni dari puluhan angkatan. Diperlukan niat dan kesungguhan untuk melaksanakan acara reuni sedemikian indah, lengkap dengan berbagai atribut pendukung yang membuat kami dapat mengenang kembali masa-masa silam.

    Muchas gracias para nuestro profesores.

    Sesungguhnya budi baik dan kesabaran kalian mengajari kami membaca, menulis, berhitung sejak awal kami belum mengerti apapun hingga membuat kami mampu memahami dunia, tidak mungkin dapat kami balas dengan apapun. Hanya ucapan terima kasih dan do’a setulus hati yang dapat kami berikan.

    Never say Adios, karena semua tentu berharap acara ini bukan satu-satunya reuni. Semoga masih akan ada reuni-reuni berikutnya yang kian mempererat ikatan yang telah terbentuk dalam keluarga besar alumni sekolah ini.

    Hasta la otra reunión…

    Salam De Nosotros Para Nosotros

    -PriMora Harahap-

    5 Januari 2010

    note:
    tulisan ini diunggah dan dimuat juga di blog Kompasiana (Kompas.com) dan Detik blog (Detik.com) pada kategori umum dan persahabatan, serta di PriMora’s blog
    (@ http://primoraharahap.blogspot.com/)

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.

"Integrate the javascript code between and : Integrate the javascript code in the part :